Peredaran Obat Palsu

Oleh Anies

Masyarakat kembali memperbincangkan kemerebakan obat palsu karena kasusnya memang menonjol dan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan harian ini menyoroti secara khusus peredaran obat palsu tersebut (SM, 25/06/12).

Peredaran obat palsu di Indonesia, termasuk di Jateng, terus menjadi ancaman bahaya permanen. Pada saat situasi sulit dan melambungnya biaya hidup, harga murah menjadi salah satu faktor penentu dalam membeli barang, termasuk obat. Beberapa alasan mengapa banyak obat palsu, salah satunya karena tidak ada kebijakan yang jelas mengenai pemberantasan peredarannya.

Selain merugikan industri farmasi produsen obat yang dipalsukan, komposisi obat palsu yang beredar di masyarakat sangat membahayakan. Bayangkan jika obat yang dipalsukan adalah antibiotika untuk pengobatan infeksi karena penyakit akan makin parah. Atau penderita diabetes mellitus yang melonjak kadar gula darahnya karena obat yang diminum tidak mengandung khasiat.

Berdasarkan jenis dan jumlahnya, obat palsu dapat dikelompokkan menjadi berbagai kategori. Pertama, yang paling parah adalah produk tanpa bahan aktif. Berikutnya produk dengan jumlah bahan aktif tidak tepat, bahkan bahan aktif yang tidak benar. Ada pula produk dengan jumlah bahan aktif yang benar tetapi berkemasan palsu, meniru produk asli. Ada yang lebih berbahaya, yaitu produk dengan bahan tidak layak atau tercemar bahan toksik.

Kategori obat palsu yang karena kadarnya kurang dari standar yang ditetapkan diberi nama obat substandar, dan dapat berasal dari pabrik resmi yang karena satu kelalaian dalam kontrol memungkinkan kasus substandar itu terjadi.

Peredaran obat palsu di Indonesia selain disebabkan kelemahan pemahaman konsumen dan sektor hukum, juga berkait erat dengan mahalnya harga obat asli. Obat-obat palsu itu, sebagian besar, dijual dengan harga lebih murah hingga konsumen terkecoh. Dengan demikian, memerangi peredaran obat palsu juga harus memperhitungkan aspek bisnis.

Patut disampaikan salut kepada BPOM yang gencar merazia obat palsu. Pada masa lalu instansi itu kurang tegas memberikan sanksi hukum. Umumnya hanya menarik obat itu dari peredaran setelah ketahuan mutunya dari hasil uji lab. Bisa dibayangkan betapa panjang waktu edar antara obat itu dikeluarkan dari pabrik dan penindakan di lapangan yang memakan waktu untuk meng-geledah, mencari, dan menginterogasi pedagang.

Memutus Rantai

Aparat hukum pun harus tegas. Sangat sedikit dari pemalsu obat yang dijerat dengan hukum maksimal. Bahkan pemalsuan obat dikategorikan tindak pidana tidak penting. Pengategorian ini ber-dampak terhadap peringkat perhatian aparat penegak hukum dan bobot pengenaan hukuman terhadap mereka yang terlibat.

Akibatnya pengedar/ penjual tidak takut terhadap penjeraan yang diberlakukan aparat penegak hukum. Kita berharap aparat penegak hukum sudah harus mengubah persepsi terhadap pemalsuan obat ini. Hukuman yang dijatuhkan mestinya lebih berat sehingga penjual atau pihak lain yang terlibat menjadi jera.

Solusi bagi masyarakat luas untuk mewaspadai obat palsu ini, usahakan menebus obat di apotek resmi yang sudah memiliki distributor penyalur obat-obat asli dan terdaftar. Untuk obat yang tanpa resep dokter, agar membeli obat yang menggunakan Bahasa Indonesia dengan registrasi sah dari aparat terkait

Obat palsu juga terkait dengan harga obat yang mencekik leher. Maka perlu ada solusi terhadap harga. Harga obat di Indonesia tergolong mahal karena bahan baku baku umumnya diimpor, biaya distribusi terus membengkak dan melambung, persaingan perusahaan farmasi, serta kolusi antara perusahaan farmasi dan apotek/ dokter. Pola ini telah berlangsung belasan tahun hingga problemnya sudah berurat berakar, karena itu rantai peredarannya harus diputus. (Sumber: Suara Merdeka, 19 Juli 2012).

Tentang penulis:
Prof Dr dokter Anies MKes PKK, guru besar Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan pada Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,433,280 hits
Juli 2012
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: