Tan Malaka dan Pancasila

Oleh Ibnu Budiman

Akuilah dengan hati bersih bahwa kalian dapat belajar dari orang Barat.Tapi jangan sekali-kali kalian meniru dari orang Barat. Kalian harus menjadi murid-murid dari Timur yang cerdas…” (Tan Malaka)

Tan Malaka, jika kita mencoba menelusuri nama ini di buku-buku sejarah sekolah yang merunut pada sejarah buatan asing, maka akan sulit sekali menemukan pembahasan terkait siapa gerangan nama ini.Jika pun ada,paling kita akan menemukan namanya dalam peran antagonis yang tidak seirama dengan perjuangan bangsa. Tan Malaka memiliki hati yang terlalu teguh untuk berkompromi, sehingga dia diburu oleh Polisi Rahasia Belanda,Inggris,Amerika,dan Jepang di 11 negara demi cita-cita utamanya memerdekakan Indonesia.

Dialah orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia melalui bukunya,Naar de Republiek (1926). Muhammad Yamin menjulukinya ”Bapak Republik Indonesia”. Soekarno menyebutnya ”Seorang yang mahir dalam revolusi”. Namun, hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang pendiriannya berasal dari konsepnya di buku Massa Actie(1926).Tan Malaka merupakan manusia menawan Indonesia yang meninggalkan warisan intelektual tak ternilai.

Dia menghidupkan akal sehat manusia ketimuran dengan karya fenomenalnya: Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog). Dalam usia muda dan pergolakan kolonial yang menindas kala itu, dia berhasil menjelajahi ilmu di dua benua dengan total perjalanan sepanjang 89.000 km atau dua kali jarak tempuh Che Guevara di Amerika Latin. Para tokoh yang secara umum dianggap sebagai The Founding Father Indonesia, sesungguhnya banyak belajar dari karya-karya Tan Malaka. Ini terkait dengan munculnya nilai-nilai filosofis kebangsaan yang dikemas dalam nama Pancasila.Inilah hasil dari olahan pemikiran yang bersumber dari karya-karya Tan Malaka.

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dalam berbagai catatan sejarah bangsa Indonesia pada masa Orde Baru,terdistorsi dengan paham komunis revolusioner yang digagas Tan Malaka. Hingga saat ini pun,pemikiran Tan Malaka masih terus hidup. Tan Malaka adalah sosok yang sangat antikapitalis.Namun, bangsa kita yang berideologi Pancasila ini, saat ini kian kapitalis. Pancasila pun kian terkikis. Sila Ketuhanan,Kemanusiaan, dan Persatuan, diancam dengan berbagai teror dan toleransi antarumat beragama yang kian renggang.

Sila Kerakyatan diinjak-injak oleh wakil-wakil rakyat. Sila Keadilan terancam dengan korupsi yang membabi buta dan kebijakan membunuh hak rakyat kecil. The Real Founding Father ini sekarang memang sudah tiada. Namun,dia pernah berujar.“Dari dalam kubur,suaraku akan jauh lebih keras daripada di atas bumi”.

Hal ini berarti menuntut kita sebagai generasi bangsa saat ini dan masa depan untuk dapat terus mengembangkan pemikiran dan mengembalikan, serta memenuhi cita-citanya dalam nilai-nilai Pancasila. (Sumber: Seputar Indonesia, 7 Juni 2012)

Tentang penulis:
Ibnu Budiman, Mahasiswa Departemen Geografi Universitas Indonesia, Penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) Dompet Dhuafa

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,480,312 hits
Juni 2012
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: