Tinjauan Kritis Islamic Epistomology : Bayani, Burhani dan Irfani (Bagian IV)

Oleh M Khoirul Huda

Pengantar redaksi:
Artikel ini dimuat bersambung. Bagian I, edisi Kamis 3 Mei 2012. Bagian II, edisi Kamis 10 Mei 2012. Bagian III, edisi Kamis 17 Mei 2012. Bagian IV, edisi Kamis 24 Mei 2012.

 

 

3. Nalar Irfani

a. Pengertian Nalar Irfani

Irfani merupakan bahasa Arab yang memiliki dua makna asli, yaitu sesuatu yang berurutan yang sambung satu sama lain dan bermakna diam dan tenang. Namun secara harfiyah al-‘irfan adalah mengetahui sesuatu dengan berfikir dan mengkaji secara dalam. Dengan demikian al-‘irfan lebih khusus dari pada al-‘ilm.

Secara termenologi, irfani adalah pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakikat oleh Tuhan kepada hambanya (al-kasyf) setelah melalui riyadah.

Contoh konkrit dari pendekatan ‘irfani lainnya adalah falsafah isyraqi yang memandang pengetahuan diskursif (al-hikmah al-batiniyyah) harus dipadu secara kreatif harmonis dengan pengetahuan intuitif (al-hikmah al-zawqiyah). Dengan pemaduan tersebut pengetahuan yang diperoleh menjadi pengetahuan yang mencerahkan, bahkan akan mencapai al-hikmah al-haqiqiyyah. Pengalaman batin Rasulullah Muhammad SAW. dalam menerima wahyu al-Qur’an merupakan contoh konkrit dari pengetahuan irfani.

Dapat dikatakan meski pengetahuan irfani bersifat subyekyif, namun semua orang dapat merasakan kebenarannya. Artinya, setiap orang dapat melakukan dengan tingkatan dan kadarnya sendiri-sendiri, maka validitas kebenarannya bersifat intersubyektif dan peran akal bersifat partisipatif.

Implikasi dari pengetahuan ‘irfani dalam konteks pemikiran keislaman, adalah menghampiri agama-agama pada tataran substantif dan esensi spiritualitasnya, dan mengembangkannya dengan penuh kesadaran akan adanya pengalaman keagamaan orang lain (the otherness) yang berbeda aksidensi dan ekspresinya, namun memiliki substansi dan esensi yang kurang lebih sama.

Dalam filsafat, irfani lebih dikenal dengan istilah intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. Ciri khas intuisi antara lain; zauqi (rasa) yaitu melalui pengalaman langsung, ilmu huduri yaitu kehadiran objek dalam diri subjek, dan eksistensial yaitu tanpa melalui kategorisasi akan tetapi mengenalnya secara intim.

Dalam surah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, dijelaskan bahwa ada dua cara mendapatkan pengetahuan. pertama melalui “pena” (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah ‘llm Ladunny seperti ilmu yang diperoleh oleh Nabi Haidir.

taksonomi epistemologi pengetahuan irfani adalah dari segi sumber pengetahuan, ia bersumber dari kedalaman wujud sang ‘arif itu sendiri; dari segi media/alat pengetahuan, ia bersumber dari kedalaman-kesejatian wujud sang ‘arif; dari segi objek pengetahuan, ia menjadikan wujud sebagai objek kajiannya; dari segi cara memperoleh pengetahuan, ia diperoleh dengan cara menyelami wujud kedirian melalui metode riyadah.

Di antara keunggulan irfani adalah bahwa segala pengetahuan yang bersumber dari intuisi-intuisi, musyahadah, dan mukasyafah lebih dekat dengan kebenaran dari pada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal. Bahkan kalangan sufi menyatakan bahwa indra-indra manusia dan fakultas akalnya hanya menyentuh wilayah lahiriah alam dan manifestasi-manifestasinya, namun manusia dapat berhubungan secara langsung (immediate) yang bersifat intuitif dengan hakikat tunggal alam (Allah) melalui dimensi-dimensi batiniahnya sendiri dan hal ini akan sangat berpengaruh ketika manusia telah suci, lepas, dan jauh dari segala bentuk ikatan-ikatan dan ketergantungan-ketergantungan lahiriah. Namun kendala atau keterbatasan irfani antara lain adalah bahwa ia hanya dapat dinikmati oleh segelintir manusia yang mampu sampai pada taraf pensucian diri yang tinggi. Di samping itu, irfani sangat subjektif menilai sesuatu karena ia berdasar pada pengalaman individu manusia.Sedangkan epistemologi irfani adalah epistemologi yang beranggapan bahwa ilmu pengetahuan adalah kehendak (iradah). Epistemologi ini memiliki metode yang khas dalam mendapatkan pengetahuan, yaitu kasyf. Metode ini sangat unique karena tidak bisa dirasionalkan dan diperdebatkan. Penganut epistemologi ini adalah para sufi, oleh karenanya teori-teori yang dikomunikasikan menggunakan metafora dan tamsil, bukan dengan mekanisme bahasa yang definitive (nyata).

b. Perkembangan Nalar Irfani .

Perkembangan irfani secara umum dibagi dalam 5 fase. Pertama fase pembibitan, terjadi pada abad pertama hijriyah. Apa yang disebut baru ada dalam bentuk prilaku zuhud. Kedua, Fase kelahiran terjadi pada abad kedua hijriyah. Jika awalnya zuhud dilakukan atas dasar takut dan mengharap pahala, dalam periode ini, ditangan Robiah al – Adawiyah ( 801 M ) zuhud dilakukan atasa dasar cinta pada Tuhan, bebas dari rasa takut atau harapan mendapat pahala. Ketiga fase pertumbuhan terjadi abad 3 – 4 H, para tokoh sufisme mulai menaruh perhatian terhadap hal hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku, sehingga sufisme menjadi ilmu moral keagamaan ( akhlak ). Keempat fase puncak terjadi pada abad ke- 5 H. Pada periode ini Irfan mencapai masa gemilang. Irfan menjadi jalan yang jelas karakternya untuk mencapai pengenalan serta kefanaan dalam tauhid dan kebahagiaan. Kelima fase spesikasi terjadi abad ke-6 dan 7 H berkat pengaruh Al-Ghozali yang besar, Irfan menjadi semakin dikenal dan berkembang dalam masyarakat islami. Pada fase ini, secara epistemologi irfan telah terpecah dalam 2 aliran yaitu irfan sunni dan irfan teoristis. Keenam, fase kemunduran terjadi abad ke-8 sejak abad itu, irfan tidak mengalami perkembangan bahkan mengalami kemunduran. .

c. Metode Nalar Irfani .

Pengetahuan irfan tidak didasarkan atas teks seperti bayani, tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan: 1) persiapan; 2) penerimaan; 3) pengungkapan, dengan lisan atau tulisan.

Tahap pertama, persiapan. Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang harus menempuh jenjang-jenjang kehidupan spiritual. Setidaknya, ada tujuh tahapan yang harus dijalani, mulai dari bawah menuju puncak : 1)Taubat; 2)Wara’; menjauhkan diri dari segala sesuatu yangsubhât; 3) zuhud, tidak tamak dan tidak mengutamakan kehidupan dunia; 4) faqir, mengosongkan seluruh fikiran dan harapan masa depan, dan tidak menghendaki apapun kecuali Tuhan SWT; 5) sabar, menerima segala bencana dengan laku sopan dan rela; 6)tawak kal, percaya atas segala apa yang ditentukan-Nya; 7) ridla, hilangnya rasa ketidaksenangan dalam hati sehingga yang tersisa hanya gembira dan sukacita. Kedua, tahap penerimaan. Jika telah mencapai tingkat tertentu dalam sufisme, seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Tuhan secara illuminatif. Pada tahap ini seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak (kasyf), sehingga dengan kesadaran itu ia mampu melihat realitas dirinya sendiri (musyâhadah) sebagai objek yang diketahui. Namun, realitas kesadaran dan realitas yang disadari tersebut, keduanya bukan sesuatu yang berbeda tetapi merupakan eksistensi yang sama, sehingga objek yang diketahui tidak lain adalah kesadaran yang mengetahui itu sendiri, begitu pula sebaliknya (ittihâd). Ketiga, pengungkapan, yakni pengalaman mistik diinterpretasikan dan diungkapkan kepada orang lain, lewat ucapan atau tulisan. Namun, karena pengetahuan irfani bukan masuk tatanan konsepsi dan representasi tetapi terkait dengan kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan, sehingga tidak bisa dikomunikasikan, maka tidak semua pengalaman ini bisa diungkapkan.Persoalannya, bagaimana makna atau dimensi batin yang diperoleh dari kasyf tersebut diungkapkan? Pertama, diungkapkan dengan cara i`tibâr atau qiyas irfani. Yakni analogi makna batin yang ditangkap dalam kasyf kepada makna zahir yang ada dalam teks. Kedua, diungkapkan lewat syathahât, suatu ungkapan lisan tentang perasaan (al-wijdân) karena limpahan pengetahuan langsung dari sumbernya dan dibarengi dengan pengakuan.

Pendekatan nalar bayani meliputi: 1) origin (sumber) yaitu experience ; 2) metode (proses dan prosedur) yaitu al –dzauqiyyah al –mubasyirah, direct experience ;al- ilm a-huduri, preverbal; prelogical knowledge; 3) approach yaitu psiko-gnosis. Intuitif;dzauq , al la’aqlaniyyah 4) theoretical framework (kerangka teori) yaitu zahir-batin, tanzil-takwil, nubuwwah-wilayah, haqiqi-majazi; 5) fungsi dan peran meliputi partisipatif ( al-hads wal al-wijan, bila wasitah; bila hijab); 6) types of argument yaitu atifiyyah-wijdaniyyah, spirituality (esoteric); 7) tolok ukur validitas keilmuan yaitu universal reciprocity, empati, simpati, undersanding otheers; 8) prinsip-prinsip dasar yaitu al-ma’rifah, al-ittihad/al-fana’, al-hulul (Allohu nafsuhu yaghz al – nafs al-insaniyyah fa yahulla fiha wa yatahawalu al-insanu hin idzin il akainin jadidin; 9) kelompok ilmu-ilmu pendukung yaitu al-mutasawwifah, ashab al-irfan ma’rifah (esoteric); 10) hubungan subyek dan objek yaitu intersubjective, wihdatul al-wujud (unity in difference; unity in multiplicity).

C. Kesimpulan

Bayani adalah metode pemikiran yang didasarkan atas otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung, secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks.

Pengetahuan irfan tidak didasarkan atas teks seperti bayani, tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan: 1) persiapan; 2) penerimaan; 3) pengungkapan, dengan lisan atau tulisan.

Nalar Burhani sama sekali tidak mendasarkan diri pada teks tetapi menyandarkan diri pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Dengan demikian, sumber pengetahuan burhani adalah rasio, bukan teks atau intuisi. Rasio inilah yang memberikan penilaian dan keputusan terhadap informasi yang masuk lewat indera.

Perbandingan ketiga epistemologi ini adalah bahwa bayani menghasilkan pengetahuan lewat analogi furû` kepada yang asal; irfani menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Tuhan, burhani menghasilkan pengetahuan melalui prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya.

Daftar Pustaka

a. Buku-Buku

  • C.A.Van Peursen, Filosofische Orientatie;orentasi di Alam Filsafat, Terjemahan Dick Hartoko, Jakarta: Gramedia, 1980
  • Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, Konsep, Filsuf, dan Ajaranya, Bndung:Pustaka Setia, 2009
  • M.Amin Abdullah (1), Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif Interkonektif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010
  • M.Amin Abdullah (2), Etika Hukum di Era Perubahan Sosial, Diskusi Berseri:”Menggagas Ilmu Hukum Berparadigma Profetik sebagai Landasan Pengembangan Pendidikan Hukum di Fakultas Hukum UII Seri III, Pusat Studi Hukum dan Program Pasca Sarjana UII, Yogyakarta, 2012
  • Muhammad Abed al Jabiri, Bunyah al-‘Aql al-Arabi,Markaz ad-Dirasat Wahdah al-‘Arabiyah, Beirut, 2007
  • Miska Muhammad Amien, Epistomologi Islam, Jakarta: UIP,2006
  • Ilyas Supena, Pengantar Filsafat Islam, Semarang: Walisongo, 2010
  • Jujun S.Suriasumantri (1), Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: Gramedia, 1981
  • Jujun S.Suriasumantri (2), Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Sinar Harapan, 1985
  • The Liang Gie (1), Suatu Konsepsi ke Arah Penerbitan Filsafat, Terjemahan Ali Mudhofir,Yogyakarta: Karya Kencana, 1977
  • The Liang Gie (2), Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty, 2010
  • Louis O.Koattsoff, Elemen of Philosopy :Unsur-Unsur Filsafat (terjemahan Soejono Soemargono, Yayasan Pembinaan Fakultas Hukum UGM
  • Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangan di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 2010

b. Website

  • http//www. Sanaky.staff.uii.ac.id.
  • http//www.sanadthkhusus.blogspt.com
  • http//www.id.dhvoong.com
  • http//www.muhammadiyah-kurdi.blogspot.com

Tentang penulis:
M Khoirul Huda SH MH, dekan Fakultas Hukum Universitas Hang Tuah Surabaya, peserta Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia. Kontak person: 081 357 437 000. Email: emkahuda2010@yahoo.co.id

 

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,473,121 hits
Mei 2012
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 77 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: