Menyemai Moralitas Agama

Oleh Idrus Ruslan

Dalam sebuah dialog di Metro TV, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud M.D. secara berkelakar mengatakan, “saat ini kita telah kehilangan rasa kaget, sebab ketika belum habis rasa kaget kita oleh suatu kejadian ‘fantastis’ yang terjadi di negeri ini, sudah muncul lagi kejadian lain yang membuat kita terkaget lagi, begitu dan begitu seterusnya.”

Walaupun ungkapan tersebut konteksnya adalah guyonan, jika diperhatikan dengan situasi akhir-akhir ini, sepertinya guyonan tersebut menempati sasaran yang tepat. Fenomena tawuran dan kerusuhan antarpelajar yang sedang mengikuti ujian nasional di berbagai daerah, tindak premanisme oleh geng sepeda motor, sengketa tanah yang berujung bentrokan horizontal, penyelundupan narkoba, cerita pada lembar kerja siswa yang jauh dari kesan mendidik, dll. Semua itu membuat kita mengusap dada dan bertanya, sebenarnya ada apa dengan moral masyarakat kita? Benarkah masyarakat telah “mati rasa” sehingga tidak memiliki rasa kepedulian?

Mochtar Lubis mengeksplorasi enam sifat manusia Indonesia, dua di antaranya adalah enggan bertanggung jawab dan berwatak/karakter yang lemah. Stereotip tersebut tentu tidak seluruhnya benar, tetapi tidak pula seluruhnya salah. Sebab, menurut Jakob Oetama, stereotip tumbuh dalam benak seseorang berdasarkan pengalaman, observasi, tetapi juga oleh prasangka dan generalisasi.

Tesis yang dibangun oleh Lubis tersebut seakan membantah argumentasi bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang religius. Namun, bukan pada tempatnya “mencari kambing hitam”, tetapi bagaimana memberikan solusi alternatif agar apa yang telah dipertontonkan tersebut menjadi pelajaran bersama, serta tidak melakukan kesalahan kedua kali.

Karena itu, yang diperlukan adalah membangun moral sedini mungkin bagi generasi muda. Caranya dengan menanamkan pendidikan agama secara simultan dan peneladanan dari para orang tua atau yang lebih tua. Pentingnya penanaman pendidikan agama diharapkan menjadi energi positif mengubah “potret buram” yang terjadi di negeri ini.

Objektivitas Agama

Moralitas (agama) bukanlah sekadar retorika sehingga menjadi enak didengar, melainkan diperlukan kesadaran mengaktualisasikannya di tengah publik. Harus ada koherensi antara teori dan kenyataan. Artinya, nilai-nilai agama bersifat normatif harus termanifestasi penganut agama.

Karena itu, diperlukan sebuah kesadaran akan Tuhan Yang Mahahadir (Omnipresence of God) di setiap waktu dan di mana pun manusia berada. Orang yang mengingkari pesan (moralitas) agama dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan politik, sama artinya mengingkari kehadiran Tuhan dalam hidupnya.

Tumbuhnya kesadaran ini akan berimplikasi positif terhadap moral juga perbuatan seseorang sehingga ia akan selalu mengontrol apakah perbuatannya masuk kategori dosa atau pahala. Ini pula yang menunjukkan bahwa nilai-nilai agama sesungguhnya tidak terpisah dari penerapannya.

Rasanya tidak satu agama pun yang mengajarkan menjadi orang tidak bertanggung jawab, alias pengecut terhadap segala macam tindakan yang dilakukan. Pun tidak ada agama yang menjadikan umatnya berwatak lemah. Pesan-pesan Ilahi, yang termaktub dalam kitab suci maupun sabda Nabi, tentunya sangat menekankan pentingnya menjadi manusia bertanggung jawab serta memiliki moral kuat.

Dalam tradisi Islam, misalnya, hal ini dapat dilacak pada sebuah Hadis dan ayat Alquran yang menegaskan “setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya” atau “sesungguhnya pada dirimu (Muhammad), terdapat akhlak yang mulia.” Kedua konsep tersebut secara jelas menguraikan tuntutan agar menjadi manusia bertanggung jawab serta manusia bermoral tinggi. Jika manusia telah menginternalisasikan dan mengaplikasikan konsep tersebut, apa yang diestimasi Lubis di atas tidak akan menemui kenyataan.

Moralitas-Profesionalitas

Setidaknya ada dua kata kunci yang perlu dicamkan dalam merespons fenomena akhir-akhir ini, yaitu moralitas dan profesionalitas. Perlunya mengedepankan moralitas dan profesionalitas karena selama ini sangat mudah ditemukan individu yang belum sepenuhnya mengacu kepada dua aspek ini.

Oleh karena itu, sinergisme keduanya mutlak diperlukan karena moral akan sangat berguna mengarahkan suatu bangsa, apakah bisa digolongkan sebagai bangsa beradab ataukah bangsa biadab. Selain itu, kearifan suatu bangsa akan dilihat dari aspek moralitas komponen bangsa itu sendiri.

Sedangkan profesionalitas akan memberikan dorongan bagi masyarakat melakoni tugas dan tanggung jawabnya masing-masing secara profesional. Karena itu, moralitas dan profesionalitas segenap komponen bangsa harus selalu diusahakan sebagai sebuah paradigma berpikir yang tiada henti dan menjadi agenda bersama. Diharapkan akan melahirkan manusia ramah dan rahman karena menjunjung tinggi moralitas di tengah publik. (Sumber Lampung Post, 27 April 2012)

Tentang penulis:
Idrus Ruslan, dosen IAIN Raden Intan Lampung

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,450,206 hits
April 2012
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 76 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: