Oleh Welly Adi Tirta
Pernyataan Ketua KPK Busyro Muqoddas tentang gaya hidup politikus yang hedonis menuai banyak tanggapan. Kalau masyarakat jelas mendukung kritik Busyro soal gaya hidup bermewah-mewah politikus, pejabat negara, dan pemuka agama.
Apa yang dikhawatirkan Busyro tentu pada imbas gaya hidup itu dengan peluang terjadinya korupsi. Hal ini bisa kita maklumi karena gaya hidup mewah akan mudah membuat orang terjebak dalam korupsi. Terlebih ia punya kekuasaan.
Ilustrasinya ialah, seorang anggota Dewan punya penghasilan bersih dari gaji dan honorarium serta lain-lain pemasukan dalam sebulan taruhlah Rp50 juta. Semestinya ia sudah cukup dengan itu. Angka itu terhitung sangat besar untuk penghasilan pejabat negara atau pejabat politik.
Namun, pengeluaran anggota Dewan jelas lebih dari itu. Ia mesti menyiapkan uang untuk konstituen, entertainment, dan memenuhi gaya hidupnya. Sudah tentu duit lima juta itu kurang. Karena kurang, ia pasti membutuhkan sumber pemasukan lain. Nah, dalam konteks inilah peluang anggota Dewan dan pejabat negara untuk menjadi korup sangat besar.
Mereka kemudian, seperti dugaan kuat Ketua MK Mahfud M.D., memainkan atau memperjualbelikan pasal dalam undang-undang yang akan disahkan. Dari sanalah mereka mendapatkan uang. Untuk pejabat negara, titik krusialnya dari memainkan uang negara agar bisa masuk ke kocek pribadi.
Kasus suap wisma atlet adalah contoh betapa banyak anggota Dewan yang terindikasikan mendapat duit haram itu. Termasuk yang terakhir soal suap di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang menyeret politikus ketua umum PKB yang juga Menakertrans Muhaimin Iskandar.
Gaya hidup mewah membawa dampak yang besar darimana seseorang itu mendapatkan harta. Gaya hidup mewah bakal memaksa mereka untuk menjual kehormatan demi uang dan mengatasnamakan rakyat.
Yang agak mengagetkan ialah pernyatan politikus senior PKS yang juga Sekjen Partai Anis Matta. Buat Anis, mewah tidaknya bisa diintervensi negara. Dari sini kita sedikit bisa menilai bahwa Anis tidak sepakat soal mewah tidaknya gaya hidup itu ditelisik orang lain.
Ini jelas membingungkan. Apalagi ia datang dari partai yang dulu semasa Partai Keadilan, tercitra sebagai entitas politik yang sederhana dan santun. Kini, orang menilai, PKS atau bukan, sama saja. Bermewah-mewah juga. Percuma kalau begitu, memberikan kajian Islam soal kesederhaan para sahabat nabi, kalau diri sendiri saja malah bermewah.
Barangkali harta politikus itu bersih semua dari suap. Kita bisa memahami itu. Namun, kita ini terdiri dari masyarakat dalam multitingkatan. Ada yang kaya, ada yang miskin.
Apalagi Indonesia masih terkategori negara miskin di mana disparitas antara kelompok mampu dan miskin sangat tajam. Di sinilah dibutuhkan kesederhanaan pejabat negara dan elite. Simpan saja mobil mewah mereka di rumah sebagai investasi. Jangan tunjukkan itu secara mencolok kepada rakyat yang membeli kaca spionnya saja tidak mampu. Itulah justru yang membuat citra politikus harum. Menjaga syahwat untuk bermewah dan menjadi sosialita atau selebritas.
Sederhana
Yang seharusnya dikembangkan oleh pejabat negara dan elite politik, termasuk pemuka agama serta ustaz selebritas ialah hidup sederhana. Tak perlu memakai jas tambalan bak Perdana Menteri M. Natsir dahulu atau punya penghasilan kecil sampai tak mampu bayar tagihan listrik dan telepon seperti mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Yang dibutuhkan itu ialah sikap sederhana dan berjuang buat rakyat.
Kalau mau jujur, dengan duit sebesar penghasilan per bulan, para pejabat negara dan anggota Dewan itu sudah hidup lebih dari cukup. Dengan mereka sederhana, orang-orang yang barangkali selama ini ikut menikmati duitnya, akan berpikir bahwa politikus mereka saja hidup sederhana dan tak akan meminta uang lagi.
Dengan begitu, ada pembelajaran juga buat rakyat. Selama ini kan masyarakat tahunya kalau politikus itu mesti mewah dan jetset. Perspektif itu harus dibuang. Bermobil tak masalah, asal harga dan modenya pantas dan digunakan untuk kemaslahatan.
Kalau pola hidup sederhana ini tidak dilakukan dan pejabat serta elite berkubang dengan kemewahan, suatu waktu masyarakat akan muak. Ekstremnya, mereka tak bakal memilih calon legislator yang suka bermewah-mewah sedangkan banyak rakyat yang masih miskin.
Sikap hidup sederhana muncul jika kita bisa menerima apa yang ada. Bersyukur adalah kata kuncinya. Jika bermewah-mewah, itu jelas tanda belum bersyukur. Karena bersyukur adalah dimensi agama yang kental, sungguh aneh kalau sikap sederhana malah tidak ditunjukkan politikus Islam.
Politikus yang mengaku dari partai Islam dan berslogan yang makin hari makin menyebalkan. Sok suci, sok bersih. Kalau masih bermewah, artinya dimensi religiositasnya masih rendah. Sungguh memprihatinkan. (Sumber: Lampung Post, 21 November 2011).
Tentang penulis:
Welly Adi Tirta, Komunitas Pembaca Sampit




KOMENTAR TERBARU