Daya Saing Pekerja Indonesia

Oleh Firmanzah

ASEAN memasuki babak baru dalam geopolitik internasional maupun pola kerja sama internal antarnegara ASEAN. Kesepakatan pasar tunggal ASEAN (ASEAN Economic Community—AEC) yang ditandatangani pada KTT ke-9 di Bali (2003) akan berlaku efektif pada 2015.

AEC ingin menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan keterkaitan proses produksi di tingkat kawasan. Konsekuensi dari kerja sama ini ASEAN menjamin kebebasan mobilitas tenaga kerja terampil, modal, jasa investasi dan barang/jasa (perdagangan) antarnegara ASEAN.

Pertanyaan besar yang mengemuka apakah Indonesia siap menyongsong pasar tunggal ASEAN 2015.

Belajar dari kesiapan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) beberapa waktu lalu, Indonesia perlu mempercepat persiapan dalam empat tahun ini. Terlebih lagi, liberalisasi investasi, perdagangan, dan pasar tenaga kerja terampil ASEAN mewajibkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan bisa berkompetisi.

Tenaga Kerja

Dalam cetak biru AEC telah disepakati jaminan kebebasan mobilitas bagi tenaga kerja terampil di kawasan ASEAN melalui serangkaian tahapan yang disepakati dalam ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) tahun 1995. Untuk memfasilitasi liberalisasi jasa dan mempermudah mobilisasi tenaga kerja profesional lintas negara di ASEAN, maka dipandang perlunya kesepakatan pengakuan tenaga profesional di bidang jasa yang diwujudkan dalam Nota Saling Pengakuan (Mutual Recognition Arrangements—MRA’s). Sejauh ini Nota Saling Pengakuan sudah dilakukan untuk jasa arsitektur, jasa akuntansi, kualifikasi survei, praktisi medis tahun 2008, dan praktisi gigi tahun 2009. Liberalisasi jasa lainnya baik pada sektor maupun subsektor diharapkan dapat diberlakukan pada 2015.

Persoalannya kemudian, yakni seberapa jauh kesiapan SDM Indonesia menyambut liberalisasi jasa di kawasan ASEAN? Data ketenagakerjaan Indonesia menunjukkan the bottom of pyramid dari struktur tenaga kerja berdaya saing rendah. Data BPS (2010) menunjukkan 52% berpendidikan SD/tidak tamat SD, 20% SMP/tidak tamat SMP, sehingga 72% dari tenaga kerja Indonesia berdaya saing rendah. Rendahnya tingkat pendidikan pada 72% tenaga kerja mengakibatkan sulitnya bagi kelompok masyarakat ini untuk mendapatkan pekerjaan formal dengan tingkat keterjaminan yang relatif lebih baik.

Hanya sebagian kecil (8%) dari komposisi tenaga kerja Indonesia yang berdaya saing, 3% di antaranya merupakan profesional dengan tingkat pendidikan sarjana, sedangkan 5% di antaranya semi-skilled worker berpendidikan diploma dan kejuruan. Potret ini tentunya menjadi kegelisahan yang cukup mengganggu dalam menyongsong pasar tunggal ASEAN, saat arus liberalisasi jasa termasuk jasa profesi baik skillful labor maupun semi-skilled labor akan semakin deras mendekati tahun 2015.

Peningkatan SDM

Baru-baru ini, UNDP merilis peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) turun dari posisi peringkat ke-111 (dari 168 negara pada 2010) menjadi peringkat ke-124 (dari 187 negara di tahun 2011). Laporan UNDP tersebut menunjukkan bahwa kita hidup dalam dynamic-competition. Setiap negara saling berlomba untuk menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih efisien, dan lebih produktif.

Ukuran keberhasilan tak hanya dilihat dari perbaikan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Tetapi juga perlu dilihat perbandingan besaran (magnitude) dan kecepatan (speed) dengan negara lain. Kinerja pembangunan nasional selama beberapa tahun terakhir perlu dikonfrontasi dengan kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan dan realita pembangunan di negara-negara lain. Hal ini agar pembangunan nasional tidak terjebak pada perbaikan kinerja ekonomi makro minus perbaikan kualitas manusianya. Persaingan semakin dinamis dan hampir tanpa pola sebagai imbas dari dinamika lingkungan dan ketidakpastian yang tinggi.

Masing-masing negara mempersiapkan diri tidak hanya dalam mencapai posisi lebih unggul (disequilibrium seeking), tetapi juga dalam upaya memitigasi efek negatif dari ketidakpastian tersebut. Negara unggul hanyalah negara yang mampu membentengi diri (protective belt) melalui perbaikan kualitas manusia dan menyiapkan tenaga-tenaga kerja andal (skillful) yang siap menyongsong perubahan dan bersahabat dengan ketidakpastian tersebut.

Kualitas tenaga kerja yang tinggi akan terwujud apabila kualitas pembangunan manusia Indonesia berdaya saing unggul. Akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, gizi, dan fasilitas publik lainnya akan menentukan kualitas manusia dan tenaga kerja Indonesia. Pembangunan nasional harus dapat diarahkan pada peningkatan modal manusia (human capital). Peningkatan modalitas manusia hanya dapat dicapai jika kesehatan dan pendidikan terpenuhi di atas kebutuhan minimal. Modal (sumber daya) manusia berkualitas merupakan mesin penggerak dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan secara keseluruhan karena berfungsi meningkatkan kapasitas pembangunan dan mempercepat program pembangunan (catalyst agent).

Dengan demikian, logika pembangunan nasional perlu diluruskan pada upaya pembangunan SDM untuk mencapai percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Pendidikan dan kesehatan merupakan dua pilar yang perlu dijadikan pijakan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.

Untuk rencana jangka pendek, program percepatan peningkatan keahlian dan skill dapat dilakukan melalui program Balai Latihan Kerja (BLK), sertifikasi profesi, training dan workshop. Peran dan fungsi BLK tidak hanya dioptimalkan, tetapi juga butuh disebarluaskan mulai di tingkat desa hingga kabupaten/kota. BLK perlu diperbanyak, tidak hanya pada sentra-sentra produksi, tetapi juga pada pusat-pusat pendidikan baik formal maupun nonformal. Sertifikasi profesi perlu didudukkan pada pemenuhan standardisasi minimal dari satu profesi (sertifikasi guru/dosen, akuntan, pengacara, dll) bukan sekadar administrasi profesi saja. (Sumber: Lampung Post, 22 November 2011).

Tentang penulis:
Firmanzah, Guru besar FE-UI dan Dekan FE-UI

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,481,512 hits
November 2011
S S R K J S M
« Okt   Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: