Oleh Chusnan Maghribi
Akhir kepemimpinan Indonesia di ASEAN akan ditandai dengan penyerahan tongkat estafet kepemimpinan bergilir kepada Myanmar atau Malaysia pada KTT di Bali, yang akan berakhir pada 19 November 2011. Bila penegakan nilai-nilai HAM di Myanmar mengalami kemajuan signifikan sehingga tidak dipersoalkan lagi oleh Barat, dipastikan tongkat estafet kepemimpinan ASEAN jatuh ke tangan Myanmar. Tapi jika tidak mengalami kemajuan berarti dan masih tetap diprotes Barat maka Malaysia akan memimpin ASEAN setahun ke depan.
Terlepas dari persoalan penegakan HAM di Myanmar, adakah hal baru dari KTT Bali? Saat wawancara dengan wartawan di Deplu, 27 Oktober lalu, Menlu Marty Natalegawa menjelaskan, Indonesia mengusung tiga tema besar dalam forum itu. Pertama; evaluasi atas persiapan menuju pembentukan Komunitas ASEAN 2015. Di KTT Bali ini Indonesia mencoba memastikan, selama setahun kepemimpinannya telah dicapai kemajuan penting menuju finalisasi persiapan pembentukan komunitas tersebut.
Kedua; upaya memastikan kawasan sekitar ASEAN menjadi zona yang betul-betul aman dan kondusif terutama bagi negara anggota agar dapat dengan tenang dan nyaman menjalankan program pembangunan nasionalnya masing-masing tanpa khawatir akan adanya gangguan keamanan, khususnya dari luar kawasan.
Ketiga; upaya Indonesia menetapkan semacam target baru untuk dicapai ASEAN setelah 2015, ketika Komunitas ASEAN yang serba terintegrasi antarketiga pilar penunjangnya (politik dan keamanan, serta ekonomi, dan sosial budaya) terbentuk. Ketika Komunitas ASEAN —yang dibayangkan sebagai suatu kondisi antarnegara anggota saling terkait secara fisik dan kebijakan tiga pilar pendukungnya— terbentuk tahun 2015, idealnya menurut Marty hal itu diikuti pembangunan atau pembentukan visi baru, yaitu upaya memperkuat posisi dan peran ASEAN di kancah global.
Inti visi baru ASEAN ini oleh Marty digambarkan sebagai fakta hubungan (kerja sama) antaranggota yang makin terkoordinasi, kohesif, dan koheren terutama dalam menyikapi tiap isu global yang menjadi kepentingan bersama. Dalam pandangannya, Indonesia perlu menggulirkan (gagasan) visi baru tersebut lantaran selama ini suara ASEAN menyangkut konflik Palestina-Israel misalnya, tidak bulat. Filipina, Singapura, dan Thailand belum sepenuhnya mendukung perjuangan Palestina mendirikan negara merdeka. Adapun tujuh anggota lainnya mendukungnya secara penuh.
Sikap ASEAN yang tidak kompak sangat tidak menguntungkan dalam percaturan global karena bisa memperlemah posisi tawar di forum multilateral. Ketidakkompakan itu terjadi lantaran kurangnya koordinasi dan kohesi antarnegara anggota dalam merespons isu-isu tertentu. Karenanya, upaya meningkatkan koordinasi dan kohesi kerja sama anggota, khususnya dalam merespons isu-isu global perlu dilakukan.
Upaya ini akan mulai dirancang setelah guliran visi baru ASEAN tentang penguatan posisi dan peran pakta itu dalam kancah global yang terwadahi dalam konsep ASEAN Community in A Global Community of Nations disetujui oleh seluruh anggota, sebagai sebuah deklarasi dalam KTT Bali.
Visi baru ASEAN Community in A Global Community Nations yang disepakati menjadi deklarasi nanti (Bali Concord III), dengan sendirinya memperbanyak prakarsa Indonesia. Sebelumnya, pada KTT Bali 23-25 Februari 1976 yang antara lain menelorkan Bali Concord I, Indonesia memprakarsai pembentukan Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama (Treaty of Amity and Cooperation/ TAC) di kawasan Asia Tenggara (ASEAN Selayang Pandang, Deplu RI, 1985, p. 16).
Kita tahu, negara luar kawasan yang bekerja sama dengan ASEAN (dalam ASEAN Regional Forum / ARF dan East Asia Summit/ EAS, misalnya) disyaratkan harus menandatangani TAC. Negara-negara besar seperti India, RRC, Rusia, dan Amerika Serikat ikut menandatangani perjanjian itu sehingga mereka tidak boleh semaunya sendiri berperilaku di kawasan Asia Tenggara.
Lalu, pada KTT Bali 2003 yang menghasilkan Bali Concord II, Indonesia menggulirkan gagasan progresif berupa pembentukan Komunitas ASEAN 2015 dengan tiga pilar pendukungnya itu.
Karenanya, ada benarnya apabila KTT Bali dikatakan sebagai upaya merancang visi baru ASEAN, terutama tentang penguatan posisi dan perannya dalam percaturan global. (Sumber: Suara Merdeka, 17 Nopember 2011).
Tentang penulis:
Chusnan Maghribi, alumnus Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Yogyakarta




KOMENTAR TERBARU