Perbaikan Menuju Komunitas ASEAN 2015

Oleh Isdiyono

Tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah sekaligus ketua forum Association South East of Asian Nation(ASEAN),di samping menjadi tuan rumah SEA Games 2011.

Ada yang berbeda dengan wajah forum ASEAN tahun ini terkait dengan masuknya dua negara adidaya, AS dan Rusia, ke dalam komunitas.Tidak sembarang kunjungan kenegaraan, tetapi langsung menghadirkan Presiden Obama dan Medvedev. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan ASEAN saat ini sudah mendapatkan perhatian khusus dari dunia internasional.

Ada beberapa faktor yang memang layak diperhitungkan oleh dunia internasional dari ASEAN.Pertama,kondisi perekonomian di ASEAN cenderung stabil dan mengalami peningkatan. Krisis yang sedang melanda kawasan Eropa,tidak terlalu mempengaruhi kondisi perekonomian di kawasan ini. Kedua,kawasan ASEAN bebas potensi pengembangan senjata nuklir massal.

Hal ini sesuai kesepakatan dengan negara pemilik senjata nuklir (P5),yakni Amerika Serikat,Inggris,Prancis,Rusia, dan China pada tahun ini. Meski demikian, penggunaan energi nuklir dipertimbangkan sebagai solusi dalam mengurangi kebergantungan terhadap bahan bakar minyak. Ketiga,persatuan sebagai negara maritim yang disatukan oleh wilayah Samudra Hindia telah membantu komunitas ini untuk lebih merasa sebagai satu keluarga.

Secara esensial,kondisi demikian telah menumbuhkan rasa kekeluargaan yang tinggi. Kepemilikan wilayah laut (kecuali Laos), secara langsung membentuk kondisi perekonomian dan mata pencarian masyarakatnya tidak berbeda jauh. Posisi Indonesia dalam forum ini cukup menjanjikan, melihat berbagai macam potensi yang ada.

Wilayah yang dilalui Selat Malaka, telah menjadikan kawasan yang berbatasan dengan Malaysia dan Singapura ini menjadi jalur perdagangan dunia dari dahulu. Wilayah perairan dan pulau yang luas, menawarkan berbagai macam tempat wisata, pengembangan hasil laut, hutan dan pertanian.

SDM yang melimpah (sekitar 250 juta jiwa), Akan tetapi,potensi tersebut tidak akan memiliki arti apa-apa jika kebijakan perekonomian tidak memihak pada peran ekonomi masyarakat.Kebijakan perekonomian skala makro hanya akan semakin memperlebar jurang pemisah antara masyarakat dengan tingkat perekonomian tinggi dan masyarakat miskin.

Jika hal ini tidak diperhatikan secara holistis, keberadaan komunitas ASEAN bagi Indonesia akan menjadi bumerang. Agresif dalam persaingan ekonomi kawasan, tetapi tidak ada penguatan dari sektor perekonomian masyarakat menengah ke bawah.

Masyarakat dengan kondisi perekonomian bawah tidak akan mampu berkembang karena tidak bisa menguasai pasar, sehingga perlu adanya kebijakan dalam penguatan perekonomian masyarakat mayoritas untuk mempersiapkan diri dalam persaingan internasional. Jika tidak, iklim komunitas ini hanya akan menguntungkan beberapa pihak. (Sumber: Seputar Indonesia, 18 Nopember 2011).

Tentang penulis:
Isdiyono, Mahasiswa FIP Universitas Negeri Yogyakarta



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

KOMENTAR TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 759,790 hits

 

November 2011
S S R K J S M
« Okt   Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.