Oleh Said Aqil Siradj
Moammar Khadafi memang telah tewas. Namun, ia sosok menarik untuk ditulis kembali, terutama sebagai pelajaran bagi kita. Kita tahu, saat kematiannya, reaksi bermunculan baik dalam wujud suka maupun duka di kalangan pemimpin dunia.
Ada yang menyebut tewasnya Khadafi menandai akhir dari era kelaliman. Sebaliknya, Presiden Venezuela Hugo Chavez menganggap Khadafi sebagai pejuang hebat, seorang revolusioner, dan mujahid. Di negeri kita, kala itu ratusan jemaah Masjid Muammar Qadhafi, Sentul City, Bogor, menggelar salat gaib dan doa bersama terkait tewasnya Khadafi.
Mereka menganggap Khadafi sebagai pemimpin yang baik. Khadafi memang menjadi donatur terbesar, termasuk menyumbang tanah 5 hektare untuk pengembangan studi Islam yang bernama Qadhafi Islamic Center di masjid megah tersebut.
Sebagai orang yang pernah bertemu Khadafi, saya tertarik untuk melihat sosok Khadafi yang kontroversial ini. Sejauh tatapan saya, Khadafi merupakan sosok pemimpin yang sangat percaya diri. Makanya tak heran, ketika saya membaca di berbagai media, bagaimana sikap Khadafi saat dahsyatnya gempuran NATO dan kelompok pejuang National Transition Council (NTC) tetap kukuh, bahkan bersumpah akan menghadapi sampai titik darah penghabisan.
Personifikasi Negara
Selama ini, Libya identik dengan figur Moammar Khadafi. Sosok yang pernah disanjung sebagai “simbol perlawanan” dari dunia ketiga dan dunia Islam. Pemimpin Libya ini menjadi sosok yang dihormati sekaligus dicaci Khadafi bahkan pernah dijuluki “anjing gila dari Timur Tengah.” Bagaimana tidak, Khadafi pernah akan menyerang kota suci Mekkah di Arab Saudi.
Karier Khadafi gemilang berawal dari sekelompok tentara muda yang mengambil alih kekuasaan dari Raja Idris. Perjalanan pemerintahan monarki di bawah pimpinan Raja Idris itu akhirnya berakhir pada 1 September 1969. Penggulingan kekuasaan itu digulirkan dari Kota Benghazi. Kelompok militer muda ini dipimpin 12 anggota direktorat yang menamakan dirinya Revolutionary Command Council (RCC).
Sejak itulah pimpinan militer muda yang dipimpin Kolonel Moammar Khadafi mendeklarasikan kemerdekaan Libya yang kedua kalinya. Libya pun memproklamasikan berdirinya Great Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya.
Khadafi tampil sebagai pemimpin revolusi tertinggi di negara itu. Khadafi pun membentuk sistem politiknya sendiri, yang diklaimnya sebagai gabungan dari sosialisme dan Islam, yang disebutnya sebagai “teori Internasional ketiga.”
Khadafi adalah pengagum berat Gamal Abdel Nasser. Demi menghunjamkan pemikiran sosialismenya, Khadafi menerbitkan Buku Hijau (Green Book) yang menjadi bacaan wajib bagi rakyat Libya untuk diajarkan di sekolah-sekolah.
Gebyar revolusi Libya dan kepahlawanan Moammar Khadafi itu sempat membuat pesona kalangan intelektual Indonesia. Dr. Mansour Fakih dalam bukunya Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik (2002) pernah menyebutnya sebagai revolusi sosial yang juga merupakan gerakan pengembalian Islam kepada watak dasarnya.
Ketokohan Moammar Khadafi sudah sepatutnya disejajarkan dengan tokoh-tokoh revolusi kelas dunia lainnya. Fakih bahkan menyeru pada pemikir pembaruan Islam untuk kembali menengok gerak perjuangan Khadafi. Fakih menulis, “Dalam kaitan itulah ‘membaca’ Khadafi akan menyumbangkan setetes inspirasi dari lautan inspirasi yang diperlukan untuk membangun pemikiran dan tatanan alternatif yang terbaik yang tengah dicari dan diharapkan bangsa Indonesia saat ini.”
Ya, Khadafi saat itu memang dipuja sebagai tokoh revolusioner yang hidupnya digambarkan bersahaja. Dia lebih memilih tinggal dalam kemah di gurun. Sampai-sampai, saat Amerika mengebom Libya, putrinya tewas terkena muntahan bom. Dunia pun kala itu memanas.
Titik Balik
Namun, seiring waktu, sejarah menyingkap balik. Tiba-tiba gempa mengguncang Timur Tengah melalui Revolusi Melati dari Tunisia. Libya yang lama tak terdengar lagi soal revolusi yang bergelegak-gelegak dan juga ucapan-ucapan heroik melawan adikuasa Amerika lewat tokoh Moammar Khadafi harus mengikuti arah wind of change yang sapuannya nyaris tak mampu diredam.
Sejarah pun membongkar segala hal ihwal Libya. Negeri di Afrika Utara itu ternyata menyimpan “api dalam sekam” yang sewaktu-waktu mudah meledak. Tengoklah, rivalitas lama antara suku di Tripoli dan Benghazi menjadi penanda rentannya gejolak konflik yang mudah tersulut.
Begitupun sistem kekuasaan besutan Khadafi sangat desentralistis dan dikelola oleh “komite-komite populer” melalui hierarki yang rumit. Sistem ini menandakan bahwa tidak ada institusi yang menjadi pusat pengambilan kekuasaan kecuali Khadafi, putra-putranya dan pejabat-pejabat mereka.
Perjuangan rakyat Libya yang dulunya melawan penjajah Italia dan kemudian menghentikan monarki dari keempukan kekuasaannya ternyata tidak berhenti sampai di situ. Kekayaan alamnya berupa minyak yang berlimpah pun tak mampu “meninabobokkan” rakyat Libya dari kegerahan atas sistem yang despotis dan korup.
Untuk beberapa tahun atau dekade lamanya, memang rezim-rezim komprador yang otokratik, korup, dan represif bisa bertahan. Peranti-peranti kekerasan seperti hukum dan perundang-undangan, lembaga peradilan, kepolisian, tentara, penjara, juga legitimasi keagamaan adalah alat-alat dari kelas yang berkuasa untuk melestarikannya. Rakyat takut berhadapan dengan kekerasan rezim, dan pada saat yang sama mengakui keabsahan rezim dengan segala sesuatu yang diperbuatnya. Mereka pun tunduk kepada rezim.
Semua peranti itu kini luluh lantak. Kemaharajaan Moammar Khadafi dalam menaklukkan rakyat Libya menjadi sirna. Adagium power tend to corrupt dari Lord Acton yang begitu populer terasa mujarab. Kekuasaan yang dibangun berpinak-pinak waktu justru makin menyuburkan mentalitas dan sistem yang korup. Penguasa-penguasa di Timur Tengah termasuk Moammar Khadafi tak sadar telah membuktikan tesis itu.
Dalam sikap tunduk massa rakyat terhadap rezim, terdapat pula rasa tidak puas, kemarahan, bahkan kebencian terhadapnya. Selama bertahun-tahun atau berdekade-dekade, kedua hal yang saling bertentangan itu berakumulasi.
Sementara itu, krisis yang secara inheren menjangkiti rezim-rezim korup selalu terjadi dari waktu ke waktu. Rasa tidak puas menjadi lebih kuat daripada sikap tunduk. Dalam keadaan demikian, kehadiran suatu pemicu akan mengubah akumulasi ketidakpuasan, kekecewaan, dan kebencian massa-rakyat menjadi perlawanan.
Peralihan kualitatif, yakni kuantitas menjadi kualitas tak terelakkan lagi. Sikap tunduk teratasi, ketidakpuasan, kekecewaan, dan kebencian kepada rezim bertransformasi menjadi perlawanan hidup dan mati.
Dan suasana itu, kini secara niscaya dirasakan Moammar Khadafi. Sang Kolonel yang tadinya dipuja-puji sebagai “hero” kini harus kembali menjadi “zero” bahkan nyawanya harus meregang dengan sangat memilukan. Inilah hikmah yang sangat berharga bagi para pemimpin dan juga tentang sebuah revolusi serta tuntutan massal pada demokrasi.(Sumber: Lampung Post, 18 Nopember 2011).
Tentang penulis:
Said Aqil Siradj, Ketum PBNU




KOMENTAR TERBARU