Oleh Erika Fauzia
Tak salah bila kita menyebutkan guru sebagai pahlawan.Sejak kecil sering kali kita mendengar ungkapan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan ini rasanya terlalu dihayati sehingga kita benarbenar tidak memberikan tanda terima kasih.
Gaji rendah, minimnya tunjangan, dan kurangnya pemerataan fasilitas bagi guru merupakan beberapa contoh kurangnya tanda jasa yang pemerintah kita berikan pada mereka. Padahal guru itu yang membuka wawasan selain orang tua. Di tangan seorang gurulah tercetak orang-orang hebat, generasi penerus bangsa.
Terkadang kita selalu meminta hak tanpa mengenal kewajiban.Mungkin itulah yang terjadi pada profesi guru saat ini.Lupakan apa yang terjadi pada guru-guru di kota-kota besar di Indonesia, yang masih memiliki nasib lebih baik dibandingkan guru-guru yang tinggal dan mengabdi di pelosok negeri.
Guru yang tinggal di pelosok negeri sudah menerima gaji kecil diminta pemerintah untuk memberikan pendidikan yang terbaik dan melakukan penyuluhan pendidikan.Adanya UAN notabene memaksa ribuan siswa dari seluruh Republik Indonesia untuk menyamakan kemampuan intelektualnya untuk diuji dengan standar tertentu.
Padahal standar pengajaran saja belum tentu bisa diterapkan oleh guru-guru tersebut. Mengapa? Karena kurangnya fasilitas dari pemerintah. Beberapa bulan yang lalu,saya melakukan kuliah kerja nyata di salah satu provinsi di Indonesia. Saat itu saya tinggal di desa yang bisa dibilang lumayan terbelakang.
Di desa ini hanya ada satu PAUD, SD, dan SMP. Ketika itu saya dan teman-teman sempat mengajar dan di sana kami melihat begitu banyak peralatan yang dapat dipakai untuk menunjang KBM, tetapi yang terjadi di SD tersebut peralatan hanya menganggur dikarenakan guru tidak dapat menggunakannya.
Sebaiknya pemerintah sebelum meminta peningkatan kinerja pada guru mungkin dapat melakukan penyuluhan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang peduli dengan pendidikannya.Namun di Indonesia itu semua masih isapan jempol, masih banyak disparitas pendidikan antara Pulau Jawa dengan pulau lain di Indonesia. Padahal pulau-pulau lain tersebut juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia?
Bagian yang dulu diperjuangkan oleh para pahlawan yang sekarang namanya tercantum dalam daftar pahlawan nasional.Namun,mengapa saat ini bagian tersebut seolah dilupakan dan dikesampingkan? Dan mengapa para pengampu tugas untuk pemerataan pendidikan tersebut juga kesejahteraannya tidak diperhatikan? Maka tak salah bila kita menyebutkan guru sebagai pahlawan yang terlupakan.
Bila Indonesia ingin menjadi bangsa yang besar dan berkualitas, seharusnya pemerintah lebih memperhatikan nasib para pahlawan tanpa tanda jasa ini.Di tangan mereka sebenarnya nasib bangsa ini dapat diubah ke arah yang lebih baik. (Sumber: Seputar Indonesia, 17 Nopember 2011).
Tentang penulis:
Erika Fauzia, Mahasiswi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomika. dan Bisnis UGM




KOMENTAR TERBARU