Arsip untuk November 14th, 2011



Menelisik Jati Diri Kepahlawanan

Oleh Mursia Ekawati

”Apabila penetapan pahlawan nasional terlalu dominan diwarnai pertimbangan politis akan makin buram sosok pahlawan yang kita cari”

Tiap bangsa mempunyai sejarah masa lalunya. Sejarah ada dalam ingatan dan agar tidak memudar dan terlupakan berbagai upaya bisa dilakukan. Misalnya membangun monumen, mengangkat kisah kepahlawanan ke dalam film, menggubah lagu atau menuliskannya dalam catatan sejarah. Hal itu merupakan cara untuk memelihara dan mengabadikan ingatan kita agar sosok tokoh yang perlu kita kenang selalu hadir dalam kehidupan. Lewat berbagai upaya tersebut sosok seorang tokoh yang disebut pahlawan kita temukan.

Memasuki November bagi bangsa Indonesia merupakan saat tepat untuk menelisik kembali sesungguhnya pahlawan yang kita hormati itu? Teristimewa ketika banyak usulan kepada pemerintah untuk mengangkat tokoh tertentu sebagai pahlawan nasional, dan pemerintah hanya mengangkatnya sebagian. Dalam masyarakat yang sedang gandrung melaksanakan kehidupan demokrasi, usulan itu sah-sah saja. Berbagai tanggapan pun segera muncul baik yang mendukung maupun yang mencoba mengkritisinya.

Di luar dua sikap yang berbeda tersebut bisa jadi kita mendiamkan sebuah usulan, terlebih bila tokoh yang diusulkan berasal dari golongan minoritas. Apabila penetapan pahlawan nasional terlalu dominan diwarnai pertimbangan politis akan makin buram sosok pahlawan yang kita cari. Semangat keikhlasan berkorban, cinta Tanah Air dan bangsa, menjunjung persamaan kedudukan dan kesederajatan, memuliakan kemanusiaan, menjadi tidak relevan lagi. Semangat tersebut tergantikan oleh pertimbangan praktis pragmatis yang bermuara pada kepentingan perorangan ataupun kelompok tertentu.

Selama ini, sosok pahlawan yang melekat dalam ingatan orang adalah mereka yang tertulis dalam buku pelajaran sejarah. Padahal penulisan buku sejarah tidak pernah sepi dari kepentingan rezim yang berkuasa. Tiap rezim penguasa mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk bisa menuliskan ’’sejarah baru’’, termasuk di dalamnya merumuskan ulang kriteria pahlawan dan kepahlawanannya. Dalam buku sejarah, penyebutan tokoh-tokoh pahlawan pergerakan nasional mengalami pasang surut. Misalnya setelah G30S PKI tak pernah lagi ditulis tokoh-tokoh pergerakan nasional yang berasal dari sayap kiri sebagai pahlawan.

Upaya Nyata

Sebagian besar tokoh pahlawan yang ditulis dalam buku sejarah cenderung banyak yang berhubungan dengan kekerasan, senjata, dan darah. Pada masa sebelum pergerakan nasional kita diperkenalkan dengan tokoh yang lahir dari peperangan seperti Diponegoro, Tuanku Imam Bondjol, Teuku Umar, Tjut Nya’ Dien, Hasanuddin, dan Pattimura. Di sekitar peristiwa kemerdekaan daftar nama pahlawan bertambah lewat tokoh seperti Panglima Besar Soedirman, Ngurah Rai, Slamet Riyadi, Adisoetjipto, dan sebagainya. Daftar itu makin panjang dengan nama Pahlawan Revolusi dan tokoh militer.

Dari sisi gender terjadi ketimpangan antara pahlawan laki-laki dan perempuan, seakan dunia kepahlawanan identik dengan ke-macho-an dalam menjalani kehidupannya. Pada level nasional kita hanya mengenal sosok klasik seperti RA Kartini, Tjut Nya’ Dien, Dewi Sartika, dan Christina Martha Tiahahu.

Pijar-pijar dangetaran semangat dan jiwa pahlawan tersebut bagi generasi saat ini hanya tertangkap sepotong-sepotong dan sulit menjiwainya. Seiring dengan ketidakpopuleran pelajaran sejarah di sekolah, sepinya keteladanan dari figur publik, dan miskinnya upaya pengingatan untuk menghidup-hidupi semangat kepahlawanan, masyarakat pun menjadi apatis terhadap nilai-nilai kepahlawanan.

Masihkah kita melihat orang serta merta memberikan pertolongan suka rela saat terjadi kecelakaan di jalanan kota? Masihkah kita lihat seorang anak muda memberikan tempat duduknya pada wanita renta di bus kota? Atau sebaliknya penghargaan apakah yang bisa kita berikan kepada relawan yang mempertaruhkan nyawa ketika mengevakuasi korban bencana? Ketika peristiwa berlalu, berlalu pula semuanya tanpa upaya meneladani dan melestarikan nnilai kepahlawanan yang mereka torehkan.

Ada dua usaha besar yang harus kita lakukan untuk mengenali sosok pahlawan sejati. Pertama; pahlawan adalah siapa pun yang dengan segenap keikhlasan atas dasar kemanusiaan menyediakan dirinya lewat upaya nyata memuliakan hidup dan kehidupan. Kedua; terhadap keteladanan tersebut harus senantiasa dihidup-hidupi ingatan kolektif bangsa lewat berbagai media massa. (Sumber: Suara Merdeka, 10 Nopember 2011).

Tentang penulis:
Mursia Ekawati, dosen FKIP Universitas Tidar Magelang, mahasiswa S-3 Ilmu-ilmu Humaniora UGM.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

KOMENTAR TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 759,790 hits

 

November 2011
S S R K J S M
« Okt   Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.