Pers Indonesia di Internasional

Oleh Naim Emel Prahana

Kematian mantan pemimpin Libya, Kolonel Moammar Khadafi, saat ini masih menjadi pemberitaan media massa cetak maupun elektronik, baik di luar negeri maupun di Indonesia.

Bangsa dan negara Indonesia tidak dirugikan apa pun dengan kematian Khadafi. Akan tetapi, ada kaitan emosional yang kental karena sebagian besar penduduk Indonesia dan Libya beragama Islam.

Dengan demikian, pers Indonesia yang hidup dan ditumbuhkan di tengah masyarakat yang mayoritas Islam tanpa filter tanpa mempertimbangkan sifat kemanusiaan bebas memetik lansiran berita-berita dari pers asing atau dari kantor berita asing. Itulah yang terjadi, seperti ketika Presiden Irak Saddam Husein ditangkap tentara Amerika Serikat, sama halnya ketika Osama Bin Ladin ditangkap tentara AS. Seakan-akan pers Indonesia turut bergembira.

Turut menyatakan perang terhadap peristiwa seperti di tiga negara yang runtuh akibat koalisi Amerika dan sekutunya dari Eropa. Padahal, apa pun tipisnya kemesraan Indonesia dan para tokoh yang terbunuh secara mengenaskan itu masih ada hubungan emosional yang kental, yaitu ideologi Islam.

Sayangnya, pers Indonesia tidak banyak memahami filosofi hubungan emosional seperti itu sehingga propaganda Amerika dan sekutunya yang terus dilancarkan melalui media massa mereka, ditelan bulat-bulat oleh pers Indonesia. Sesuatu yang ganjil, jika kita melihat kenyataan itu. Seharusnya pers Indonesia dapat menyuarakan bagaimana sebenarnya posisi masyarakat Islam yang satu dengan lainnya memiliki hubungan emosional karena ideologi agama, bukan negara.

Setidak-tidaknya pemberitaan pers asing, apakah melalui media massa atau kantor berita bisa ditelaah dengan baik. Apakah pemberitaan itu diboncengi propaganda Zionis Amerika atau kepentingan ideologi agama masyarakat negara-negara Barat yang non-Islam.

Akhirnya, karena pers di negara-negara yang masyarakatnya mayoritas beragama Islam ikut menyebarluaskan propaganda pers Barat. Dengan mudah misi-misi zionis yang mengendalikan pemerintahan Amerika dan sekutunya dapat mengklaim (dapat menuduh) apa saja negara-negara Islam dan negara-negara mayoritas penduduknya beragama Islam sebagai sarang teroris.

Keseimbangan Informasi

Tidak satu pun negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, apalagi negara-negara Islam yang bebas dari cengkeraman Amerika dengan dalih “sarang teroris” dan “memproduksi senjata nuklir.” Irak yang sejak lama menjadi sekutu AS akhirnya hancur oleh Amerika, Pakistan yang juga sekutu Amerika, juga luluh lantak oleh Amerika, apalagi Afghanistan, Yordania, Yaman, Arab Saudi, Suriah, pada akhirnya banyak yang menjadi kaki tangan negara Amerika.

Beberapa tahun terakhir, Amerika mulai meratakan negara-negara Afrika Utara yang mayoritas penduduknya Islam. Misi itu berhasil, Mesir luluh lantak, Aljazair sudah lama tenggelam, Sudan semakin susah dengan perang saudaranya, Somalia apalagi dan terakhir Libya. Tuntas sudah misi Zionis Israel yang bercita-cita ingin menjadikan dunia tanpa negara, tanpa pemerintah dan yang berkuasa adalah Israel.

Ketika pasukan sekutu memerangi Irak setelah negara Saddam Husein itu menginvasi Kuwait ada media di Indonesia yang memberitakan Perang Teluk dengan menyajikan keseimbangan informasi yang luar biasa. Hal itu disajikan dengan baik oleh harian Merdeka.

Setelah harian Merdeka bubar dan diambil alih oleh Jawa Post Grup, maka secara pasti pers Indonesia kehilangan pijakan tentang pemberitaan liar negerinya, khususnya menyangkut masyarakat Islam di negara lain. Yang masih kental uraian-uraian luar negerinya yang terasa adalah harian Prioritas, yang kini menjadi harian Media Indonesia.

Pengaruh Pers

Masalah TKW-TKI Indonesia yang mengalami berbagai penganiayaan dan ancamana hukuman mati di luar negeri tidak dapat diselesaikan dengan baik. Sebab, posisi pers Indonesia yang kurang mantap. Sebagian memberitakan penderitaan para TKI-TKW, yang sebagian besar menolak dihentikannya pengiriman tenaga kerja ke luar negeri.

Pengaruh pers sangat dahsyat, oleh karena itu dalam banyak masalah internasional, pers berperan sangat konstruktif penyelesaian berbagai kasus antarwarga negara atau antar negara-negara.

Pers Indonesia yang sekarang giat-giatnya memberlakukan sertifikasi wartawannya, masih menyisakan pelajaran ideologi bangsa dan negara kepada insan pers yang akan disertifikasi. Sumonggo kita mengkaji ulang masalah pers kita itu di tengah peradaban Internasional. (Sumber: Lampung Post, 24 Oktober 2011 )

Tentang penulis:
Naim Emel Prahana, Praktisi pers dan sosial budaya

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,481,672 hits
Oktober 2011
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: