Arsip untuk Oktober 27th, 2011



Perempuan Melawan Korupsi

Oleh Tri Wahyuni Kurniasih

Tiga perempuan perkasa kembali mengukir sejarah dunia dengan meraih Nobel Perdamaian 2011. Mereka adalah Leyma Gbowee (39) yang mampu mengorganisasikan perempuan lintas agama (Islam-Kristen) untuk menekan para suami agar tidak melakukan perang saudara di Liberia, dengan cara mogok seks.

Mereka berkomitmen tidak melakukan hubungan seks dengan suaminya jika tetap keukeuh melakukan perang saudara. Kedua, Tawakkul Karman (32) yang menjadi teladan serta simbol perjuangan rakyat Yaman dalam menumpas tirani kekuasaan yang pongah. Ia bukan hanya memperjuangkan kaum perempuan negaranya, melainkan juga masyarakatnya secara keseluruhan.

Ketiga, Ellen Jhonson Sirieaf (72) yang menduduki takhta tertinggi Liberia sebagai presiden. Di bawah naungan kekuasaannya ia memberikan sumbangsih kepada bangsanya bisa keluar dari kemelut perang saudara yang berlangsung kurang lebih 14 tahun dan mendorong pembangunan ekonomi, sosial, serta memperkuat posisi perempuan.

Menarik untuk kita cermati bersama, bahwa perempuan sejatinya memiliki pengaruh yang luar biasa dalam mengubah sejarah dunia. Terutama untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan di dunia ini. Sosok peran yang dilakoni peraih nobel perdamaian tersebut, mengingatkan kita pada sejumlah tokoh perempuan Indonesia yang berjuang untuk mewujudkan kemerdekaan dari rongrongan penjajah. Cut Nyak Dien, Christina Tiahahu, Cut Meutiah, dan R.A. Kartini adalah perempuan perkasa simbol perdamaian Indonesia. Mereka berjuang dengan tulus guna keluar dari ketertindasan sang penjajah.

Sisi Lain Perempuan

Perempuan secara fisik memiliki keunikan jika dibandingkan dengan laki-laki. Sisi lain tersebut jika dijadikan harga tawar yang tinggi terhadap sebuah perubahan, tentu akan membawa dampak yang signifikan, terutama untuk melawan kejahatan yang didominasi kaum lelaki. Hal itu akan menjadi senjata ampuh dalam upaya menekan tindak kriminalitas, seperti korupsi saat ini, yang masih menggerogoti kehidupan bangsa Indonesia.

Apa yang dilakukan Leyma Gbowee merupakan contoh sederhana dalam menekan sejumlah persoalan yang membelit sebuah negara ataupun bangsa. Apabila perempuan Indonesia bisa meniru apa yang dilakukan Leyma Gbowee dalam upaya menekan tindak pidana korupsi, tentu para koruptor akan berpikir dua kali jika akan menjalankan aksinya. Apabila seluruh istri-istri pejabat-birokrat dari level bawah sampai tingkat elite bahu-membahu menentang korupsi dengan tidak memberikan jatah biologisnya dalam jangka waktu tertentu, yang didukung perempuan di seluruh Indonesia, kemungkinan besar mereka akan berfikir dua kali untuk melakukan korupsi.

Kekuatan Tersembunyi

Modal dasar perempuan tersebut patut dicoba dan direalisasikan agar perkara korupsi tidak lagi bersemi. Perempuan memiliki kekuatan yang tersembunyi yang tidak dimiliki laki-laki. Seorang laki-laki perkasa dan kuasa pun bisa bertekuk lutut di hadapan perempuan.

Contoh konkret misalnya, beberapa tahun silam anggota Dewan sebut saja YZ dan MA, tersandung video mesum yang sempat menggegerkan republik ini. Belum lagi kasus Amin Nasution, mantan suami pedangdut Kristina, bikin heboh dengan rekaman atas kasus penumpukan harta yang dibarengi dengan transaksi pemuas berahi.

Mantan pimpinan KPK Antasari Ashar juga tak luput dari jebakan perempuan. Contoh lain, Presiden Prancis Sarkozy, yang kesandung masalah perselingkuhan dengan seorang atlet karate. Dominique Strauss Khan, mantan direktur pelaksana IMF, juga terjerumus kasus pelecehan wanita.

Itulah kehebatan perempuan yang tersirat dalam guratan sifat kewanitaan yang selama ini terpendam. Apabila sifat perempuan itu bangkit, bisa menghancurkan dan mengalahkan segalanya, tak peduli kedudukan tinggi maupun penguasa.

Menurut Siti Musdah Mulia dalam Menuju Kemandirian Politik Perempuan (2008), ada tiga kategori peran dan posisi kaum perempuan. Pertama, perempuan sebagai anak. Kedua, perempuan sebagai istri, dan ketiga, perempuan sebagai warga negara. Dalam perannya sebagai warga negara, perempuan memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki di berbagai bidang kehidupan, termasuk ikut berkiprah menegakkan kebenaran dan keadilan dalam upaya memberantas korupsi.

Sisi lain wanita yang unik itu harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menggalang kekuatan guna mencegah terjadinya pelanggaran kejahatan seperti korupsi. Belajar dari Leyma Gbowee dengan aksinya mogok berhubungan biologis layak dicontoh perempuan di Indonesia. Perempuan memiliki andil yang luar biasa dalam kiprahnya membentuk sebuah peradaban yang damai. Sudah saatnya perempuan berperan serta dalam memberantas mafia ketidakadilan itu. Korupsi adalah salah satu bentuk ketidakadilan yang perlu segera ditumpas sampai ke akar-akarnya.

Marilyn French, seorang feminis dalam Beyond Power menyebutkan kuasa laki-laki adalah power over, sedangkan kuasa perempuan adalah power to. Kuasa power over sifatnya menindas, sedang kuasa power to adalah membagi dan konstruktif.

Kuasa perempuan secara konstruktif bisa dimanfaatkan untuk membagi peranannya, memanfaatkan sisi lain dan modal dasar yang dimilikinya untuk memberikan efek jera maupun mencegah terhadap perilaku korupsi. Jika kaum perempuan ingin mengubah sejarah peradaban Indonesia, harus memulai perubahan itu sejak dini dan harus banyak belajar dari para pejuang pendahulunya, bahu-membahu menggalang persatuan dan kesatuan melawan ketidakadilan. (Sumber: Lampung Post, 25 Oktober 2011)

Tentang penulis:
Tri Wahyuni Kurniasih, Peneliti Islamic Education School (IES) STIT Yogyakarta

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

KOMENTAR TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 759,790 hits

 

Oktober 2011
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.