Arsip untuk September 19th, 2011

Peran Global AS, Berakhirkah?

Oleh Usman Pelly

Mungkin orang masih ingat hipotesis Huntington, seorang sosiolog Amerika, dalam bukunya Clash of Civilization (1980-an) dia menyatakan bahwa setelah Perang Dingin yang dimenangkan Amerika Serikat (Barat) melawan Uni Soviet akan muncul musuh baru baginya, yaitu Islam dan Cina. Menurut Huntington, clash (perang) melawan kedua kekuatan raksasa baru ini tidak akan terelakkan. Itu karena masing-masing mereka memiliki akar peradaban dan budaya //(civilization) yang sangat berbeda dan masing-masing pula berkeinginan untuk memegang hegemoni (bangsa yang dipertuan) yang akan berperan sebagai ‘polisi dunia’.

Kalau Amerika Serikat dan sekutunya (Eropa Barat) ingin memepertahankan posisi mereka sebagai ‘polisi dunia’, mau tidak mau, menurut sosiolog Huntington, kedua kekuatan di atas harus ditaklukkan atau berada di bawah kendali Amerika Serikat. Tesis Huntington waktu itu dinilai sangat provokatif, kontroversial, dan dianggap tidak punya dasar pikir yang kuat. Tetapi kenyataannya, banyak politikus dan pejabat tinggi di Amerika waktu itu terpengaruh dan menjadikannya sebagai dasar strategi pasca-Perang Dingin, terutama pejabat-pejabat penting di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada zaman pemerintahan Bush.

Islam sebagai prioritas pertama untuk dihadapi. Bush mengobarkan ‘perang melawan terorisme’ yang diidentifikasi sebagai kelompok Islam garis keras atau fundamentalis. Amerika Serikat dan NATO menduduki Irak dengan tema besar kedua: mencegah menggunaan senjata penghancur massal’. Dalam lima tahun terakhir ini muncul tema ketiga yang memberikan legalitas dan PR kepada Amerika Serikat dan NATO, yaitu mengembalikan demokrasi dan HAM di Tunisia, Mesir, Libya, dan Suriah.

Dengan tiga tema ini, Amerika Serikat dan Eropa Barat seakan terus tenggelam mengurusi masalah Timur Tengah. Belum jelas apakah mereka akan keluar sebagai pemenang untuk menundukkan kekuatan Islam dan menguasai sumber minyak terbesar di dunia itu. Sementara itu, kekuatan politik dan ekonomi Cina telah tumbuh sebagai raksasa baru, bahkan sebagai Colonial Dragon yang siap menghabisi Amerika dan Eropa.

Adalah buku Peter Navarro dan Grez Autry yang muncul dengan judul Death by China, tahun ini (2011), sebagai proklamasi untuk membenarkan hipotesis Hungtington bahwa memang kedua kekuatan dunia (Islam dan Cina) sedang berhadapan dengan Amerika Serikat dan Eropa. Yang tidak dibayangkan oleh Huntington ialah bahwa Amerika Serikat telah salah langkah mengatur strategi menghadapi kedua kekuatan itu.

Presiden Bush terdorong menaklukkan Islam (Timur Tengah) lebih dahulu dengan harapan menguasai sepenuhnya minyak bumi, baru akan menghadapi Cina. Kesalahan fatal ini dijelaskan oleh dua guru besar Ekonomi Universitas California, Navarro dan Autry, dalam bukunya yang menjadi best seller tahun ini. Sementara itu, Amerika Serikat bermimpi untuk menguasai seluruh sumber minyak bumi Timur Tengah. Mereka telah menjadi ‘rabun dekat’ (miopi). Mereka tidak mampu lagi melihat musuh kedua di Timur Jauh.

Cina, menurut kedua guru besar tadi, telah meraup lebih dari setengah produksi semen dunia, setengah dari produksi baja, sepertiga produksi tembaga, serta seperempat aluminium, tembaga, litium, dan seng dari seluruh dunia. Semua itu untuk menggambarkan betapa besar produksi industri manufaktur Cina dalam dua dekade ini yang kemudian membanjiri pasar, tidak hanya Asia dan Afrika tetapi juga Amerika dan Eropa.

Mangapa Amerika Serikat terlena menghadapi Cina? Rasanya ini bukan suatu kebetulan. Bukankah Sun Tzu, ahli seni perang China yang terkenal, telah meninggalkan petuahnya: “Untuk mengalahkan musuh, tawarkan bantuan sedemikian rupa sehingga dia lengah. Untuk mendapatkan sesuatu, kamu harus terlebih dahulu memberi”. Menurut Daily Mail Online (2011), Cina secara diam-diam telah berselancar di atas gelombang myopist Amerika, turun ke pelosok Afrika untuk menjadikan benua itu sebagai koloni baru seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang Eropa sebelumnya pada abad 17-18. Tetapi kali ini, menurut berita di atas, lebih dramatis lagi karena Cina akan menjadikan Afrika sebagai koloni kelima atau negara satelit untuk sekaligus mengatasi problem kelebihan penduduk dan kelangkaan sumber daya alam.

Defisit anggaran AS

Dua edisi majalah Time berturut-turut menurunkan artikel-artikel mengenai “The Great American Downgrade” (15 Agustus 2011) dan “The Decline and Fall of Europe” (22 Agustus 2011), sekutu terdekat Amerika Serikat. Pada edisi Time yang pertama, dinyatakan betapa Amerika Serikat selama hampir empat dekade (dari pemerintahan Nixon ke Obama) telah bertindak jauh melampaui dan melenceng dari tujuan semula. Mereka cenderung mengeluarkan uang lebih banyak dari yang mampu diperoleh hanya karena tujuan-tujuan dadakan.

Setidaknya, ada dua induk penyakit yang membobol kantong Washington. Pertama, defisit dari neraca perdagangan luar negeri dan kedua, biaya perang Timur Tengah. Defisit perdagangan dengan Cina merupakan yang terbesar (45 persen), sedang 89 negara lainnya rata-rata kurang dari satu persen.

Francis Fukuyama, seorang keturunan Jepang warga negara Amerika yang digelari sosiolog besar abad 21, pernah menasihati Presiden Bush (1990) bahwa Amerika tidak perlu memburu teroris sampai ke negara bersangkutan, karena itu melanggar kedaulatan dan martabat bangsa itu sendiri. Sebaiknya, Amerika fokus membantu perbaikan ekonomi dan sistem demokrasi negaranegara Islam agar mereka kuat dan mampu menghadapi sendiri teroris-teroris itu. Dengan kebijakan yang sama, hal itu dapat diberlakukan juga kepada Cina. (Sumber: Republika, 17 September 2011 )

Tentang penulis:
Prof Usman Pelly, Antropolog Universitas Islam Sumatra Utara (UISU) Medan

Halaman Berikutnya »



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

KOMENTAR TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 759,790 hits

 

September 2011
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.