Arsip untuk Agustus 8th, 2011



Breivik dan Dendam Sejarah

Oleh Sudibyo Markus

Dr Natana J DeLong-Bas, pemimpin redaksi The Oxford Encyclopedia of Islam and Women dan pengajar perbandingan agama di Boston College, mengemukakan pemberitaan awal di media tentang serangan ganda Anders Behring Breivik ke gedung pemerintahan di tengah Kota Oslo dan perkemahan musim panas Partai Buruh di Pulau Utoya itu pada tanggal 22 Juli 2011 lalu, buru-buru mengaitkan serangan itu dengan “terorisme atas nama Islam”. Ini mengingatkan kita pada pemberitaan awal tentang ledakan bom di Kota Oklahoma pada 1995 yang dilakukan oleh Timothy McVeigh, ketika para “pakar” langsung mengklaim serangan itu tampak seperti terorisme ala “Timur Tengah” atau “Islam”.

Tapi, ternyata Anders Behring Breivik yang dikenal sebagai fundamentalis Kristen sayap kanan tersebut, yang pernah menjadi anggota Partai Kongres yang dikenal sangat anti-Muslim, dengan mencengangkan berkata terus terang, dia harus melaksanakan pembantaian tersebut secara sengaja dan terencana. “Pembantaian itu perlu,” katanya. Breivik menolak anggapan bahwa dia berbuat kejahatan. Pengacaranya, Geir Lippestad, mengemukakan Breivik “ingin membuat revolusi, membuat perubahan dalam masyarakat”. Dalam satu dari 1548 halaman testimoni dan rencana serangannya, di internet dia mengatakan, “dia tak ingin Marxist dan Islam bersekutu dan Islam mengambil alih Eropa.”

Kepolisian Norwegia menuduh Breivik melaksanakan tindak terorisme, walaupun kemudian ditingkatkan menjadi tindak kekerasan terhadap kemanusiaan, agar bisa meningkatkan tuntutannya dari 25 tahun menjadi 30 tahun. Namun, masyarakat Norwegia menunjukkan dua sikap yang menarik dalam merespons tindak teror yang dilatarbelakangi sikap antimigrasi Muslim tersebut.

Pertama, “pendekatan teror” untuk menanamkan sikap kebencian terhadap Islam yang dianggapnya mengancam Norwegia dan Eropa melalui proses migrasi yang intensif, tak mendapat dukungan warga Norwegia. Masyarakat Norwegia tetap mencintai perdamaian dan menghargai kehidupan multikultur. Kedua, para psikiater, pakar kriminologi, dan praktisi intelijen ramai-ramai menolak pembelaan pengacara bahwa Anders Behring Breivik adalah seorang, yang mengalami gangguan kejiwaan sehingga tak bisa dituntut.

Migrasi Muslim memang menjadi fenomena yang tak terbantahkan untuk sebagian besar negara-negara Eropa, terlebih negara yang dulu pernah memiliki negara jajahan. David Pawson, seorang bekas imam Angkatan Udara Inggris, dalam bukunya “The Challenge of Islam to Christian” (London 2003) melukiskan, gelombang migrasi Muslim ke beberapa negara Eropa amat sulit dicegah, karena merupakan proses mengalirnya penduduk Muslim, from former colonies to their “mother” countries, yakni kepindahan penduduk Muslim dari bekas negara koloni ke negara “induk” yang dulu menjajahnya.

Mereka bermigrasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Terlebih ketika negara mereka dilanda huru-hara, seperti yang terjadi dengan revolusi di beberapa negara Timur Tengah di awal tahun 2011 ini. Ratusan ribu manusia perahu mengalir tanpa dapat dicegah.

Sementara itu, “Pew Forum on Religion and Public Life”, satu lembaga riset nonpartisan di bidang agama, sosial, ekonomi, dan politik yang berbasis di Washington dalam laporannya yang bertajuk “The Future of the Global Muslim Population, Projection for 2010-2030″ yang dipublikasikan pada 27 Januari 2011 mengemukakan Muslim di Eropa telah meningkat jumlahnya, dari 29,6 juta pada 1990 menjadi 44,1 juta pada 2010. Dan, diproyeksikan akan meningkat menjadi 58 juta pada 2030.

Jumlah pada 2010 tersebut sekitar 6 persen dari total penduduk Eropa, dan akan menjadi 8 persen pada 2030. Jumlah pada 2010 tersebut menurut PEW Institute merupakan 2,7 persen dari seluruh penduduk dunia, dan akan menjadi 3 persen pada 2030. Khusus untuk Norwegia, Pew Forum mencatat bahwa jumlah penduduk Muslim pada 2010 adalah sebesar 3 persen, dan diprediksikan akan naik lebih dari dua kali lipat menjadi 6,5 persen pada 2030.

Kecemasan pertambahan penduduk Muslim Eropa yang diakibatkan oleh migrasi tersebut, semakin didramatisasi dengan usaha Turki untuk masuk sebagai anggota Uni Eropa. Penduduk Turki yang berjumlah 80 juta tersebut, akan secara dramatis menambah “persentase” penduduk Muslim Eropa dari 6 – 8 persen menjadi sekitar 25 persen, kalau benar-benar Turki diterima menjadi anggota Uni Eropa. Terlebih ancaman “migrasi Turki” tersebut bukan hanya dalam masalah jumlah penduduk Muslim, melainkan Turki perlu diperhitungkan secara khusus juga dari segi pertumbuhan ekonominya dewasa ini. Diprediksikan, kekuatan ekonomi Turki di Eropa yang sedang bangkit, akan sama dengan kebangkitan raksasa ekonomi Cina di Asia.

Multikultural Eropa gagal?

Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang Technological University (NTU), Singapore, dalam Jurnalnya “RSIS Commentaries” No 56/2011 tanggal 12 April 2011 yang bertajuk “Multikulturalism in Europe: Loosing Face?” menganalisis pernyataan Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan Presiden Prancis Nicholas Sarkozy, yang berpendapat bahwa “multikulturalisme di Eropa telah gagal”. Para pemimpin Eropa tersebut mengeluh, para imigran Muslim di Eropa selama ini lebih bersikap sebagai “orang Islam di Eropa daripada sebagai orang Islam Eropa”.

Seiring dengan pendapat Engela Merkel tersebut, harian The New York Times 6 Maret 2011 yang lalu memuat pernyataan Menteri Dalam Negeri Jerman, Hans Peter Friedrich, yang meragukan bahwa seorang yang beragama Islam akan menjadi warga negara Jerman yang baik. Yang menarik, justru pernyataan Hans Peter Friedrich tersebut disesalkan oleh seorang Bishop Gereja Lutheran, Markus Dröge. Karena menurut Bishop tersebut, kita hidup di alam demokrasi yang menjunjung tinggi hak asasi manusia sehingga tak selayaknya keislaman seorang warga negara, harus dipertentangkan dengan kebudayaan bangsa. Menurut Bishop Dröge, warga masyarakat Muslim adalah bagian sah dari masyarakat yang plural.

John L Esposito menyebut an cam an migrasi Muslim yang dicemaskan oleh sebagian besar masyarakat Eropa tersebut sebagai soft terrorism atau ‘terorisme lunak’. Arus migrasi masif kaum Muslim ke Eropa, dengan tingkat fertilitas mereka yang lebih tinggi dari pada penduduk asli Eropa, ditambah faktor convert, perkembangan agama Islam di kalangan pendu duk Eropa sendiri benar-benar merupakan “tero risme lunak” tersebut.

Sehingga, melihat fenomena semacam itu, seorang sejarawan Inggris keturunan Mesir, Bat Ye’or, pada 2005 memperkenalkan satu terminologi baru yang dia sebut EURABIA, satu axis Eropa-Arab atau Muslim, yakni satu proses Isla misasi Eropa secara damai, yang justru lebih ditakuti oleh masyarakat Eropa. . (Sumber: Republika, 05 Agustus 2011)

Tentang penulis:
Sudibyo Markus, direktur Civil Islami Institute, Pengurus PP Muhammadiyah

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

KOMENTAR TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 759,790 hits

 

Agustus 2011
S S R K J S M
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.