Oleh Fathurrahman Yahya
Di tengah merebaknya “Islamofobia” di negara-negara Barat, komunitas muslim yang berada di Norwegia, setidaknya akan terusik pascaledakan bom mobil di Oslo dan pembantaian bersenjata di pulau Utoeya yang menewaskan 76 orang. Walaupun pelakunya bukan dari kelompok militan Islam, tragedi Jumat siang itu setidaknya akan berdampak terhadap citra Islam dan masyarakat Muslim di Norwegia dan Eropa pada umumnya.
Saat ledakan bom terjadi di dekat Kantor Perdana Menteri dan Kementerian Energi Norwegia di pusat kota Oslo, 22 Juli lalu, sejumlah media langsung menuding pelakunya adalah teroris dari kelompok Islam militan. Komunitas Muslim yang selama ini merasa nyaman dan aman berada di Norwegia, tentunya merasa tersudutkan dengan prejudis sejumlah media Barat terhadap kemungkinan terlibatnya kelompok Islam militan.
Namun, saat itu pula PM Norwegia Jens Stoltenberg muncul di hadapan para pekerja media menyampaikan pernyataan bahwa terlalu dini untuk mengatakan serangan teroris dari kelompok tertentu. Beberapa jam setelah dua tragedi itu terjadi, polisi menangkap seorang warga negara Norwegia, Anders Behring Breivik (32) yang diduga sebagai pelaku teror. Komunitas Muslim, baik warga negara Norwegia sendiri dan para imigran dari berbagai negara Muslim, bernapas lega karena tersangka pelaku ternyata seorang Kristen Norwegia berhaluan ekstrem kanan.
Satu hari kemudian (23/7), PM Jens Stoltenberg dan Menteri Kehakiman Knut Storberget mangadakan jumpa pers terkait tragedi yang terjadi di Oslo dan pulau Utoeya. Selanjutnya, Kepala kepolisian Norwegia dan Menlu Norwegia, Jonas Gahr Store, juga melakukan hal yang sama.
Menyikapi peristiwa sebesar ini, mereka tidak terpengaruh untuk memberikan pernyataan-pernyataan prejudis yang secara sporadis mengarah kepada pihak tertentu, apalagi kepada kelompk Islam. Mereka tidak serampangan melakukan kecurigaan-kecurigaan politis terhadap parta-partai oposisi, walaupun Behring Breivik pernah berafiliasi dengan Partai Progress (Progress Party). Mereka sangat hati-hati karena tidak ingin memunculkan “terorisme” baru di kalangan masyarakat Norwegia.
Norwegia sangat menjunjung tinggi ninlai-nilai kemanusiaan, demokrasi, HAM, dan multikulturalisme sehingga negeri yang berada di wilyah utara Eropa ini menjadi “surga” bagi imigran dari berbagai negara dari kawasan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa Timur (bekas Uni Soviet).
Masyarakat muslim di Norwegia tidak ada rintangan untuk melakukan aktivitas keagamaan di Masjid-Masjid yang mereka bangun dan wanita-wanita muslimah berjilbab pun tidak ada gangguan di ruang publik. Tetapi, pertanyaan kemudian muncul, apakah Norwegia selanjutnya akan sama seperti sebelum tragedi Jumat lalu yang dilakukan Brevik yang anti imigran muslim?
Keragaman kultur (multikulturisme) yang menjadi bagian nilai-nilai masyarakat Norwegia sedang dijuji pasca ledakan bom dan serangan brutal yang dilakukan Breivik. Bangkitnya kelompok ekstrem kanan di sejumlah negara Eropa, seperti sosok Breivik dapat ditafsirkan pula sebagai bangkitnya kebencian dan penolakan terhadap nilai-nilai multikulturalisme.
Dalam manifesto politik setebal 1.500 halaman yang ditulis pelaku, ia menginginkan suatu revolusi dalam rangka mengubah struktur masyarakat Norwegia dan Eropa pada umumnya. Breivik menilai bahwa telah terjadi kolonisasi Islam di Eropa sehingga untuk mengembalikannya harus memberangus terlebih dahulu doktrin-doktrin multikulturisme.
Usai pemeriksaan perdana di pengadilan rendah Oslo (25/7), Hakim Kim Heger menjelaskan pernyataan Breivik bahwa tujuan melakukan tindakan brutal itu “bukan untuk membunuh sebanyak mungkin orang, tetapi untuk memberikan sinyal keras”.
Menurut Breivik, seperti dijelaskan Kim Heger, “Partai Buruh terus melakukan dekonstruksi kebudayaan Norwegia dan membuka kesempatan bagi orang Islam untuk masuk ke Norwegia. Oleh karena itu, mereka harus bertanggung jawab atas pengkhianatan tersebut. Setiap orang yang memiliki hati nurani tidak akan membiarkan negaranya dijajah (kolonisasi) Islam”, demikian penjelasan Breivik di hadapan Hakim Kim Heger.
Setidaknya, kejahatan Breivik melalui Bom di Oslo dan penembakan brutal di Utoeya yang menewaskan puluhan orang, termasuk pemuda-pemuda sayap politik Partai Buruh, akan membawa dampak politik dan sosiokultural yang sangat serius. Pertama, partai-partai oposisi yang berseberangan dengan kebijakan pemerintah (Partai Buruh) terkait kebijakan imigran, tentu punya momentum politis untuk menggerus “multikulturalisme” yang selama ini menjadi garis kebijakan Partai Buruh sebagai nilai kemanusiaan yang tak terpisahkan dengan masyarakat Norwegia.
Kedua, dogma-dogma antimultikulturalisme Breivik secara tidak langsung akan membangkitkan semangat “islamofobia” dan bias-bias “rasisme”, khususnya di Norwegia dan negara-negara Eropa pada umumnya.
Namun, sejak tragedi di Oslo dan Utoeya, para petinggi negeri ini beserta mayoritas elemen masyarakat Norwegia semakin menyadari pentingnya spirit persatuan dan menghormati perbedaan multikultur. Pada saat yang sama, tragedi itu memberi pemahaman sosiologis bahwa kejahatan (terorisme) merupakan akibat dari kompleksitas manusia, tidak terkait agama, suku, dan warna kulit tertentu. (Sumber: Republika, 29 Juli 2011).
Tentang penulis:
Fathurrahman Yahya, Peneliti Politik Islam, Tinggal di Oslo Norwegia




KOMENTAR TERBARU