Arsip untuk Juli 7th, 2011

Tujuh Kiat Sukseskan KLB PSSI

Oleh Sumaryoto

“Kamu telah kembali (dari) sebaik-baik tempat kembali (medan perang), dan kamu telah kembali dari jihad yang kecil kepada jihad yang lebih besar, yaitu jihad seseorang hamba menentang nafsunya.” Hadis Nabi Muhammad SAW yang intinya, jihadun nafs, jihad melawan hawa nafsu sendiri, dan jihad tersebut merupakan jihad yang lebih besar, itu sengaja saya kutip pada awal tulisan ini untuk mengingatkan stakeholders (para pemangku kepentingan) PSSI bahwa sesungguhnya inti dari persoalan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Hotel Sunan, Solo, 9 Juli 2011 adalah hawa nafsu. Menanggalkan hawa nafsu masing-masing pihak yang selama ini berbeda pendapat adalah kiat pertama dari 7 kiat suksesnya KLB. Betapa tidak?

Pada 20 Mei 2011 KN menyelenggarakan Kongres PSSI di Hotel Sultan, Jakarta, namun deadlock karena ada oknum yang memaksakan kehendak dengan mengusung calon yang dilarang FIFA, yakni George Toisutta-Arifin Panigoro. FIFA juga melarang Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie menjadi calon ketua umum, wakil ketua umum, dan komisioner Komite Eksekutif PSSI. Namun kini, hingga mendekati hari KLB, ada indikasi kelompok tertentu tetap ngotot.

Demi suksesnya KLB, pihak yang berbeda pendapat perlu menanggalkan hawa nafsu dan egosentrisme masing-masing. Dalam konteks ini, perlu digelar pertemuan antara Ketua KN, Toisutta, Panigoro, Menpora, dan Ketua Umum KONI/KOI. Pertemuan ini untuk membangun kesepakatan setengah kamar, atau penyelesaian secara adat sehingga KLB di Solo tinggal ketok palu. Kiat kedua adalah dukungan delegasi pemegang hak suara. Sebelum kongres di Pekanbaru, Riau, 26 Maret 2011, dukungan suara mengerucut pada dua kubu, yakni kubu Nurdin Halid yang dianggap status quo, dan kubu yang mengklaim diri sebagai reformis yang tergabung dalam Kelompok 78 (K-78) yang mendukung Toisutta-Panigoro.

Pada saat kongres, terjadi polarisasi dua kubu ini yang masing-masing mengklaim sebagai calon pemenang. Namun, menjelang detik-detik terakhir kongres, setelah sekitar 60 pemegang hak suara diajak muhibah ke luar negeri oleh kubu Nurdin Halid, dukungan suara K-78 menyusut, sisanya kurang percaya diri menghadapi kongres. Makanya, ketika ada kekhawatiran kelompok yang dianggap status quo akan menang, kelompok itu mengambil alih kongres. Namun langkah ini tidak dibenarkan FIFA yang kemudian menjadwalkan kembali kongres dan oleh KN digelar pada 20 Mei 2011.

Bentuk OC-SC

Saat kongres 20 Mei 2011, ada oknum K-78 terdiri atas 7-10 orang memancing kericuhan sehingga acara deadlock. FIFA lalu menjadwal ulang kongres, kali ini bernama KLB, yang oleh KN digelar pada 9 Juli di Solo. Posisi per 17 Juni 2011 peta kekuatan suara 51:49, antara yang mendukung keputusan FIFA, atau segaris dengan KN, dan yang menolak keputusan FIFA. Pendukung yang tidak segaris dengan KN akan terus berkurang, yakni mereka yang mengusung Achsanul Qosasi, Agusman Effendi, Sutiyoso dan calon ketua umum lainnya, sehingga yang masih ngotot mengusung Toisutta-Panigoro tinggal 20-30 pemegang hak suara.

Memprediksi peta kekuatan suara ini sangat penting untuk mengatur jalannya KLB sehingga bisa menyukseskan tugas KN melahirkan pengurus PSSI 2011-2015, karena menurut Statuta PSSI pemegang hak suara dalam KLB harus kuorum, minimal 50% plus 1.

Kiat ketiga adalah kecakapan KN memimpin sidang. Bila ada peserta yang memancing kekisruhan seperti pada 20 Mei lalu, pemimpin sidang mudah mengendalikannya. Belajar dari pengalaman kongres yang deadlock, perlu dibentuk steering committee (SC) dan organizing committee (OC). Dari 7 komisioner KN, perlu ada penegasan pembagian tugas: 3 orang sebagai SC, 3 sebagai OC, seorang yakni ketua KN sebagai ketua SC/OC. Perlu pula dibentuk panitia lokal.

Kiat keempat, kelengkapan dan kesiapan perangkat KLB, seperti dasar hukum yang menjadi legitimasi KLB, administrasi, dan perangkat lainnya. Kiat kelima, suasana kultural dan spiritual, kondisi keamanan, dan atmosfer sepak bola Solo yang kondusif. Kiat keenam adalah sikap tegas pemerintah, sebagaimana disampaikan Presiden SBY bahwa kongres di Solo harus sukses memilih pengurus dan sesuai dengan aturan/ketetapan FIFA. Langkah paling konkret adalah mengimbau Toisutta-Panigoro agar legawa menerima keputusan FIFA, bila sampai 9 Juli 2011 usaha-usaha untuk mengubah keputusan FIFA tak berhasil. Kiat ketujuh adalah doa restu dari seluruh rakyat Indonesia. Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘’Doa adalah senjata bagi orang beriman.’’
(Sumber: Suara Merdeka, 4 Juli 2011).

Tentang penulis:
Drs H Sumaryoto, Ketua Indonesia Football Watch (IFW)/Anggota Komite Normalisasi PSSI.

Halaman Berikutnya »



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

KOMENTAR TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 659,445 hits

 

Juli 2011
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.