Arsip untuk Juni 20th, 2011



Menghormat Merah Putih

Oleh Saratri Wilonoyudho

Ribut-ribut soal siswa yang diperintahkan untuk tidak menghormat sang Merah Putih di beberapa SD dan SMP di Kabupaten Karanganyar mesti ditempatkan pada proporsinya. Sikap bupati yang frontal, misalnya mengancam segera menutup sekolah jika tidak menuruti peraturan, sebaiknya juga harus direm. Sebaliknya pihak yang mengatakan hormat bendera itu syirik, juga harus mengkaji ulang ajaran Islam sesungguhnya.

 

Islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi semua orang. Dalam Islam syirik itu menduakan Allah sehingga kalau hanya menghormat bendera, itu bukan syirik, apalagi niat dalam hatinya adalah mencintai negeri. Bagi saya, minum obat atau percaya dokter 100% saja bisa syirik kalau kita melupakan bahwa yang bisa menyembuhkan itu hanya Allah SWT. Dokter dan obat hanyalah perantara-Nya.

 

Rumusnya: syirik itu letaknya di hati, bukan pada wujud bendanya. Mencintai negeri juga perintah Allah karena berarti juga mencintai sang Pencipta negeri seisinya, yakni Allah SWT. Manusia adalah kalifatulah, orang yang dimandati Allah untuk mengelola alam ini, termasuk negeri. Dengan mencintai negeri maka orang akan berbuat yang terbaik bagi negeri, yakni mengelola dan mengolah kekayaan negeri untuk tujuan ibadah, yakni memakmurkan ciptaan Tuhan seperti manusia, hewan, tumbuhan, bahkan alam semesta.

 

Hormat bendera adalah bagian dari nasionalisme, yakni mencintai ciptaan Allah yang bernama negeri. Cikal bakal nasionalisme baru terwujud pada 17 Agustus 1945. Saat itu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lahir dan memiliki tujuan yang jelas sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Salah satu tujuan yang penting dalam naskah tersebut adalah kesepakatan untuk menyejahterakan bangsa Indonesia.

 

Kekayaan alam yang dimiliki Bumi Pertiwi ini mesti dikelola bersama demi kesejahteraan bangsa. Karenanya kita diberi mandat oleh Allah, lewat pemerintah untuk melaksanakannya. Apa akibatnya jika nasionalisme tidak terwujud? Jelas kehancuran negeri, yang berarti juga menyia-nyiakan ciptaan Tuhan. Dalam sejarah panjang negeri ini, pemerintah dalam hal ini diwakili oleh aparat birokrasinya, masih ada yang berbuat curang dengan apa yang kita sebut sekarang ini sebagai korupsi.

 

Cinta Ciptaan-Nya

 

Koruptor jelas tidak memiliki rasa nasionalisme. Mereka serakah dan tidak mau berbagi dengan rakyat. Dari titik inilah mendidik anak sejak kecil untuk ditanamkan nasionalisme di dadanya sangat dibutuhkan yang berujung kepada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, dan cinta kepada ciptaan-Nya berupa negeri dan isinya.

 

Berbicara tentang nasionalisme saat ini, nampaknya sangat pas dengan momen krisis kemanusiaan yang dihadapi bangsa ini, mengingat ada segelintir pejabat negara yang tidak memiliki kesetiakawanan nasional kepada sesama manusia dan bangsanya, Mereka itu paling rakus mengeruk kekayaan nasional, entah lewat model ’’buaya’’, skandal Bank Century, BLBI, korupsi wisma atlet SEA Games di Palembang, mafia peradilan atau korupsi lainnya.

 

Pejabat korup model ini tidak saja mengkhianati amanah jabatannya, yakni tidak mengabdi kepada rakyat, namun juga mengkhianati Tuhan karena mereka tidak menjalankan perintah-Nya. Akibat dikorupsi, rakyat banyak yang kelaparan, banyak yang bunuh diri karena tekanan ekonomi, tidak dapat bersekolah, tidak menikmati pelayanan sosial dari negara dengan baik, dan sebagainya.

 

Koruptor atau pengusaha yang kelewat rakus karena membayar upah di bawah standar kepada buruh, pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki rasa cinta kepada ciptaan Tuhan. Padahal dalam Islam ada hadis yang mengatakan ’’bayarlah upah sebelum keringatnya kering’’, apalagi buruh tersebut telah menyejahterakan majikannya,hingga bos kaya raya, naik mobil mewah dan mengoleksi uang jutaan dolar.

 

Nasionalisme pada dasarnya juga merupakan perwujudan dari amanah UUD 1945, yakni bahwa bangsa ini harus dalam bingkai senasib sepenanggungan. Dalam Pembukaan UUD 45, para founding father dengan jelas merumuskan,’’ negara berdiri atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas’’.

 

Kalau mencintai ciptaan-Nya berarti juga mencintai Allah. Inilah nasionalisme yang kaffah, dan bendera hanyalah lambang dari keberadaan negeri. Lalu apa yang diributkan? (Sumber: Suara Merdeka, 16 Juni 2011)

Tentang penulis:

Saratri Wilonoyudho, dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes), anggota Dewan Riset Daerah (DRD) Jawa Tengah

 

 

 

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

KOMENTAR TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 759,071 hits

 

Juni 2011
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.