Pancasila dan Pendidikan Karakter

 Oleh Sukemi

Para pemimpin delapan lembaga negara dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,Selasa,24 Mei lalu, berkumpul di Mahkamah Konstitusi untuk memantapkan posisi dan peran masingmasing lembaga negara dalam upaya penguatan Pancasila sebagai dasar ideologi negara.

Pertemuan ini menyepakati nilai-nilai Pancasila harus menjadi pemandu bagi penyelenggara negara dalam bekerja. Empat hari sebelumnya, 20 Mei 2011, tepatnya pada acara puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) Presiden juga dalam sambutannya mengajak untuk mengimplementasikan bersama tema Hardiknas 2011 “Pendidikan Karakter Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa”dan subtema “Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti”. Ada benang merah antara pendidikan dan kebangkitan nasional, dan juga Pancasila sebagai dasar ideologi negara. Tulisan berikut ingin menarik benang merah sekaligus menyampaikan fakta-fakta betapa eratnya pendidikan berbasis karakter dengan upaya menyampaikan Pancasila sebagai sebuah nilai kepada peserta didik.

Sesungguhnya, antara pendidikan dan Kebangkitan Nasional juga satu kesatuan utuh, di mana seseorang atau suatu bangsa tidak akan bisa bangkit kesadaran nasionalismenya, kesadaran berbangsanya, jika tidak ditopang oleh pendidikan yang memadai. Ini bisa kita rujuk pada sejarah Kebangkitan Nasional, yang dipelopori dan disuarakan oleh orangorang yang terdidik, seperti Dr Soetomo, Ki Hajar Dewantoro, Dr Douwes Dekker, Dr Tjipto Mangunkusumo.

Kemuliaan Bangsa

Karakter yang ingin dibangun oleh kita sebagai bangsa bukan sekadar karakter berbasis kemuliaan diri semata, melainkan secara bersamaan membangun karakter kemuliaan sebagai bangsa. Karakter yang ingin dibangun bukan hanya kesantunan, melainkan secara bersamaan dibangun karakter yang mampu menumbuhkan kepenasaran intelektual sebagai modal untuk membangun kreativitas dan daya inovasi. Ada ilustrasi yang bisa menggambarkan tentang pentingnya karakter, yaitu sirkus.

Dalam dunia sirkus, pelakupelakunya telah mengalami kehilangan karakter orisinalnya (genuine character). Singa yang mestinya galak, menjadi jinak. Demikian juga hewan lain sehingga menjadi aneh dan lucu.Semakin aneh dan lucu semakin terkagum. Itulah dunia sirkus, dunia keanehan dan kelucuan. Sebagai lelucon, memang menarik dan kalau kita terjebak dalam keanehan dan kelucuan itu, berarti kita sebagai pengikut mazhab sirkusisme. Pendidikan kita secara imperatif harus mampu membangun kembali karakter orisinal tersebut, karena kalau tidak, kita semua khawatir akan menjadi bangsa lelucon. Karakter yang unggul itu potensi sekaligus kekuatan.

Ibarat waduk yang penuh dengan air, itu baru potensi (energi potensial) dan akan menjadi kekuatan yang luar biasa kalau air tadi kita alirkan (menjadi energi kinetik) untuk menggerakkan turbin listrik.Jadilah energi listrik yang mampu membangkitkan dan menggerakkan kehidupan. Itulah makna pentingnya pendidikan karakter dan Kebangkitan Nasional.

Kemandirian

Sebuah bangsa tidak pernah lahir dan jadi begitu saja.Bangsa akan selalu berproses, dan karena itu selalu dalam keadaan menjadi.Yaitu selalu dalam proses lahir kembali, in statu nascendi, dalam proses sosial, politik, dan dalam dukungan ekonomi yang memadai. Kesadaran inilah yang harus kita tanamkan. Kemandirian adalah kata kuncinya dan harus terus didengungkan. Bukan berarti kita tidak membutuhkan kehadiran bangsa lain, tapi inisiatif di dalam membangun dan membesarkan bangsa ini harus datang dan berada di tangan kita sendiri.Untuk itulah,kita harus mempertahankan dan memperkuat tiga kekuatan bangsa yaitu: kemandirian, daya saing, dan peradaban bangsa, dengan tetap teguh berpegang pada empat pilar yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika,dan NKRI.

Berkaca dari pengalaman, tentang penanaman nilai-nilai Pancasila, ke depan harus ada upaya untuk mengaktualisasikannya. Pancasila tidak lagi disampaikan secara dogmatis semata, tapi dikombinasikan dengan kebutuhan dan situasi di mana peserta didik berada. Melalui pemberian nilai-nilai Pancasila itulah,kita bisa memberikan materi bahwa sebagai bangsa yang besar.

Tiga Lapisan

Dari pendekatan nilai-nilai Pancasila, tiga lapisan pendidikan berbasis karakter yang ingin dikembangkan sangat erat dengan nilai-nilai Pancasila. Pertama, pendidikan karakter yang menumbuhkan kesadaran sebagai makhluk dan hamba Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran sebagai makhluk dan hamba Tuhan Yang Maha Esa akan menumbuhkan nilai transendensi dan nilai keagamaan yang kuat. Pada gilirannya tumbuh sifat kasih sayang dan toleran-saling menghargai dan menghormati karena merasa sesama makhluk.Dan akan menjauhkan diri dari perilaku destruktif dan anarkis, karena jelas merupakan larangan.

Kesadaran sebagai makhluk-hamba juga akan menumbuhkan sifat jujur,karena merasa malu kepada Tuhan. Kedua,pendidikan karakter yang terkait dengan keilmuan. Metodologi dan materi pembelajaran yang merangsang tumbuhnya kepenasaran intelektual (intellectual curiosity) haruslah lebih ditonjolkan. Tujuannya untuk membangun pola pikir, tradisi, dan budaya keilmuan,menumbuhkan kreativitas dan sekaligus daya inovasi.Di sini peran guru lebih dominan dibanding kecukupan sarana dan prasarana. Ketiga,pendidikan karakter yang menumbuhkan rasa cinta dan bangga menjadi orang Indonesia.

Pendidikan karakter menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.Kecintaan karena sadar bahwa bangsa dan negara dengan empat pilarnya yaitu: Pancasila,UUD 1945,Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah milik kita,hasil dari perjuangan yang luar biasa. Dan penumbuhan kebanggaan itu dilakukan melalui kegemaran kita untuk berprestasi. Melalui prestasi positif, kita kontribusikan dan dedikasikan demi kemajuan bangsa dan negara. Inilah yang bisa menumbuhkan kebanggaan sejati.

Tanpa prestasi,kita dikhawatirkan bisa terjebak dalam kebanggaan semu, kebanggaan tanpa makna. Ini tentu kita tidak inginkan, karena kita memang tidak menginginkan bangsa ini menjadi bangsa sirkus. Kita sangat yakin, semua yang menjadi pegangan dalam pendidikan karakter adalah bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai Pancasila. Nilainilai yang terkandung di dalamnya harus dijadikan pegangan kokoh bagi satu bangsa besar yang multietnik,multiagama, ribuan pulau, dan kaya sumber daya alam. (Sumber: Harian Seputar Indonesia, 31 Mei 2011)

Tentang penulis:
Sukemi, Staf Khusus Mendiknas Bidang Komunikasi Media

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,479,413 hits
Juni 2011
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: