Revitalisasi Pancasila

Oleh Janedjri M Gaffar

Salah satu pencapaian peradaban yang menyatukan manusia Indonesia sebagai satu bangsa dan satu negara adalah Pancasila. Sebagai capaian peradaban bangsa, nilai-nilai Pancasila tidak hadir begitu saja sebagai wujud kesepakatan politik,tetapi tumbuh dan berkembang sejalan dengan terbentuknya entitas bangsa Indonesia yang kemudian menjadi negara Indonesia.

Oleh karena itu,Pancasila memiliki landasan historis dan rasional, di samping landasan politik konstitusional. Nilai-nilai tersebut diserap oleh para pendiri bangsa yang selanjutnya dirumuskan sebagai dasar negara.

Hal itu dapat dilihat dalam proses pembahasan dasar negara yang dilakukan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) hingga terumuskannya lima dasar bernegara itu sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Soekarno menyebut Pancasila sebagai philosophische grondslag, yaitu fundamen, filsafat, pikiran- pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam- dalamnya untuk di atasnya didirikan bangunan Indonesia merdeka.

Hatta memosisikan Pancasila sebagai ideologi negara yang membimbing politik negara dan hukum tata negara Indonesia. Rumusan Pancasila selanjutnya secara konstitusional dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai dasar terbentuknya Negara Indonesia. Hingga saat ini, Pancasila tetap diterima dan ditempatkan sebagai dasar dan ideologi negara.

Yudi Latif (2011) menyatakan bahwa sebagai basis moralitas dan haluan kebangsaan- kenegaraan, Pancasila memiliki landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Setiap sila memiliki justifikasi historisitas, rasionalitas, dan aktualitasnya yang jika dipahami, dihayati, dipercayai, dan diamalkan secara konsisten dapat menopang pencapaian agung peradaban bangsa dan dapat mendekati terwujudnya “negara paripurna”.

Realitas Peminggiran Pancasila

Idealitas Pancasila yang diyakini dari dulu hingga kini sebagai dasar dan ideologi negara, sebagai landasan sekaligus orientasi berbangsa dan bernegara, ternyata tidak sepenuhnya dapat dilihat wujud nyatanya dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebaliknya, kita saat ini menyaksikan dan mengalami kondisi di mana Pancasila mulai terpinggirkan.

Pancasila tidak hanya kurang diwujudkan, tetapi juga kurang dipahami atau bahkan ada anak bangsa yang tidak lagi mengetahui nilai-nilai Pancasila. Beberapa survei yang dilakukan akhir-akhir ini menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan karena banyak pelajar maupun mahasiswa yang tidak mengetahui sila-sila Pancasila.

Jika pelajar dan mahasiswa sebagai peserta didik saja ada yang tidak mengetahui sila-sila Pancasila, lalu bagaimana halnya dengan masyarakat umum? Di sisi lain, berbagai fenomena sosial kekinian membuat kita terpana dan bertanya apakah memang bangsa dan negara ini telah melupakan nilainilai Pancasila.

Melihat marak dan susahnya pemberantasan korupsi dan mafia hukum membuat kita bertanya, ke mana larinya nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sumber etika dan spiritualitas sebagai dasar etik kehidupan bernegara? Berbagai konflik dan kekerasan sosial yang terjadi sangat mengejutkan kita karena jelasjelas merusak citra bangsa yang penuh toleransi dan persaudaraan.

Lalu,di mana kita menempatkan nilai kemanusiaan yang “adil” dan “beradab”? Bukankah setiap bentuk kekerasan adalah ciri masyarakat yang “tidak beradab” dan nyatanyata mencederai prinsip “kemanusiaan” dan “keadilan”? Realitas di atas menunjukkan betapa kekhawatiran atas peminggiran Pancasila bukan hanya ilusi, tetapi benar-benar terjadi.

Revitalisasi Pancasila

Oleh karena itu,momentum peringatan Kebangkitan Nasional 20 Mei yang lalu dan peringatan lahirnya Pancasila 1 Juni harus digunakan untuk menumbuhkan kesadaran bersama dan mengembalikan arti penting Pancasila,baik sebagai dasar maupun orientasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila harus dikembalikan dan benar-benar ditempatkan sebagai ideologi negara.

Pancasila harus menjiwai dan sekaligus diwujudkan dalam produk peraturan perundangundangan dan realitas sosial. Revitalisasi Pancasila harus dilakukan baik melalui proses berpikir maupun bertindak. Pancasila sebagai objek kajian ilmu pengetahuan harus didorong untuk meningkatkan pengetahuan,pemahaman,dan keyakinan atas nilai-nilai Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara.

Selain itu,yang tidak kalah penting adalah upaya untuk membuat Pancasila menjadi lebih operasional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga dapat memenuhi kebutuhan praktis dan fungsional. Upaya revitalisasi Pancasila tentu menjadi tanggung jawab segenap komponen bangsa yang tidak hanya dialamatkan kepada warga masyarakat, tetapi yang lebih utama adalah ditujukan kepada para penyelenggara negara, baik pada tingkat pusat maupun daerah.

Tanpa mengesampingkan peran komponen lain, penyelenggara negara sudah seharusnya memiliki tanggung jawab yang besar. Penyelenggara negara memiliki kewajiban untuk melaksanakan dan menjaga Pancasila dan UUD 1945. Oleh karena itu setiap penyelenggara negara harus mengambil peran dalam upaya revitalisasi Pancasila.

Setiap penyelenggara negara dapat berperan dalam merevitalisasi Pancasila dengan cara mengoperasionalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap tindakan dan putusan yang menjadi wewenangnya.Hal ini dengan sendirinya akan berdampak pada kesesuaian antara realitas sosial, tindakan negara, dan peraturan perundangundangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Selain itu, setiap penyelenggara negara juga memiliki kewajiban untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran masyarakat atas nilai-nilai Pancasila. Hal ini sangat diperlukan karena sebagai ideologi bangsa, Pancasila juga menjadi pisau kritik atas kebijakan negara.

Hanya dengan cara demikian nilai-nilai Pancasila dapat direvitalisasi secara terusmenerus melalui langkah-langkah yang terstruktur, sistematis, dan masif. (Sumber: Harian Seputar Indonesia, 26 Mei 2011)

Tentang penulis:
Janedjri M Gaffar, Sekretaris Jenderal MK RI

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,458,564 hits
Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 76 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: