Pendidikan untuk Anak Perempuan

Oleh Masykurudin Hafidz

Perempuan dan anak perempuan adalah pihak yang paling banyak tidak menikmati hak pendidikan. Saat ini, sebanyak 75 anak diabaikan haknya untuk menikmati pendidikan. Sekitar 55 juta di antaranya adalah perempuan (Matshuura, 2010). Perlu kampanye besar-besaran dari semua pihak peduli pendidikan untuk menagih tanggung jawab pemerintah dalam menjamin pemenuhan hak-hak kaum perempuan memperoleh pendidikan.

Pendidikan merupakan hak dasar bagi setiap orang. Berbagai peraturan perundang undangan yang telah disepakati dan dijabarkan dalam berbagai kebijakan, program dan kegiatan, perlu lebih ditingkatkan. UUD 1945 pasal 31menyebutkan bahwa setiap warga berhak mendapat pendidikan dan pemerintah mengusahakan serta menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pemerintah juga telah meratifikasi Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 dan Permendiknas Nomor 84 Tahun 2008 sebagai bentuk komitmen negara terhadap berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan, termasuk pendidikan. Komitmen tersebut diperkuat dengan penandatanganan Optional Protocol to CEDAW oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 28 Februari 2000.

Dengan demikian, pendidikan sebagai proses memberikan nilai-nilai kognitif, afektif, dan psikomotorik kepada setiap manusia merupakan tanggung jawab pemerintah. Pendidikan adalah sarana utama untuk membentuk manusia yang produktif, inovatif, dan berkepribadian sesuai dengan nilai-nilai budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Faktor budaya

Secara sosio-kultural, perempuan dalam banyak hal diposisikan berada di dalam rumah. Perempuan tidak boleh tampil menonjol di muka umum karena dianggap tidak perlu berpendidikan tinggi. Seolah perempuan dianggap tidak perlu berpendidikan karena posisinya lebih banyak mengurusi hal-hal yang bersifat domestik.

Karena alasan ekonomi juga, banyak perempuan tidak melanjutkan pendidikannya. Jika dalam keluarga ada dua anak: lelaki dan perempuan, yang diminta untuk melanjutkan pendidikan adalah laki-laki. Sementara anak perempuan yang berada dalam budaya patriarki, umumnya banyak yang dinikahkan agar terlepas dari beban ekonomi keluarga. Pandangan yang demikian jelas merugikan anak perempuan.

Menurut data statistik, banyak orang Indonesia yang buta huruf. Dan dua pertiga dari mereka yang buta huruf itu adalah perempuan. Lalu, bagaimana agar mereka bisa tidak buta huruf lagi jawabannya adalah memenuhi hak pendidikan bagi perempuan. Kondisi ini harus segera diperbaiki dengan cara memberikan akses yang sama bagi seluruh warga negara, termasuk anak perempuan agar mendapatkan pendidikan yang layak.

Mendidik generasi merupakan tugas jangka panjang dan harus melibatkan semua pihak. Kegagalan dalam pendidikan akan berdampak pada rendahnya sumber daya manusia (SDM) yang kita miliki dan akan berakibat memburuknya aspek kehidupan yang lain. Apa gunanya kekayaan alam yang melimpah jika sumber daya manusia kita amat rendah akibat terabaikannya pendidikan. Kita semestinya malu dengan negara lain karena memiliki sumber daya manusia yang rendah, kekayaan alam sangat melimpah.

Kampanye publik

Strategi dalam pelayanan pendidikan adalah pemihakan kepada anak didik perempuan, terutama yang berasal dari keluarga miskin, pemihakan kebijakan pendidikan yang responsif gender dan pengembangan instrumen untuk memonitor kesenjangan tersebut serta peningkatan advokasi dan capacity building bagi daerah dan satuan pendidikan yang tertinggal.

Untuk itulah, perempuan harus ditempatkan sebagai bagian dari isu utama dalam setiap gerakan pendidikan untuk semua (Education for All). Oleh karena itu, partisipasi masyarakat dalam menagih kewajiban pemerintah saat ini adalah memastikan meningkatnya angka melek huruf penduduk Indonesia, utamanya perempuan. Harapannya, pemerintah meningkatkan akses pendidikan yang layak bagi semua, termasuk penyediaan sarana dan prasarana.

Dalam konteks yang lebih luas, pendidikan memang bukan semata urusan status, melainkan lebih pada pembentukan wawasan, kemandirian, dan konsep diri yang lebih baik. Pendidikan yang lebih tinggi bagi perempuan juga membuatnya memiliki keunggulan sehingga hidup dan keluarganya bisa menjadi lebih baik.

Oleh karena itu, kampanye pendidikan untuk semua (Education for All) terutama untuk perempuan harus diawali dengan cara meningkatkan peran masyarakat dalam proses pengambilan keputusan dan pengawasan penyelenggaraan pendidikan di sekolah, kemudian melakukan advokasi kebijakan untuk pencapaian pendidikan bagi semua serta penguatan kapasitas bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus berpartisipasi terhadap pendidikan yang lebih merata dan berkualitas.

Kegiatan yang bisa dilakukan di antaranya adalah melakukan kampanye publik penyadaran masyarakat melalui berbagai media, baik cetak, elektronik dan jejaring sosial, ataupun forum-forum pertemuan tatap muka yang dilakukan secara terus-menerus untuk mengadvokasi dan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

Advokasi kebijakan tersebut ialah untuk mendorong pencapaian Pendidikan untuk Semua 2015 melalui kegiatan kajian-kajian peraturan perundangan dan kebijakan sektor pendidikan, seperti pendidikan dasar yang gratis dan berkualitas, pengadaan buku, ujian nasional, peran komite sekolah, kajian anggaran seperti alokasi anggaran pendidikan APBN/APBD dan pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Pada akhirnya, pendidikan adalah hak setiap warga negara dan pemerintah wajib memenuhinya. Tidak boleh ada satu pun anak bangsa yang tidak bisa sekolah dan belajar hanya gara-gara persoalan biaya ataupun sebab lainnya, terutama bagi perempuan. . ( Sumber : Republika, 2 Mei 2011).

Tentang Penulis:
Masykurudin Hafidz, Anggota Civil Society Organization Initiative Education for All (CSOiEFA) Jakarta

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,480,294 hits
Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: