Oleh Harry Jusron
Beberapa hari lagi Lebaran akan kita jelang. Seperti tahun-tahun sebelumnya tradisi mudik masih akan tetap meriah dan ‘pesertanya’ terus meningkat. Sejak awal Ramadan perbincangan tentang rencana berlebaran di kampung menjadi bahan perbincangan yang cukup menarik, terutama untuk kalangan perantau. Obrolan mengenai cuti Lebaran, tunjangan hari raya, transportasi, sampai dengan rute perjalan menjadi bahasan yang mendominasi. Diperkirakan, belasan juta orang akan mudik dalam waktu yang hampir bersamaan, yaitu di H-3. Budaya mudik telah lama ada, tetapi di masa lalu pemudik tidak sebanyak saat ini. Banyaknya pemudik ini akibat jumlah perantau yang meninggalkan desa menuju kota semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kenaikan itu menyebabkan jumlah kendaraan yang mengangkutnya untuk mudik juga akan meningkat.
Menurut Dirjen Perhubungan Darat, pada Lebaran 2010 ini diperkirakan angkutan kendaraan yang mendominasi adalah motor dan mobil. Jumlah motor 3,6 juta, sedangkan mobil 1,37 juta unit. Dari keadaan tahun-tahun sebelumnya, jumlah pemudik yang menggunakan motor terbanyak mempunyai tujuan ke daerah-daerah di Jawa Tengah dan sebagian sisanya ke Jawa Timur. Kota yang terbanyak memberangkatkan pemudik adalah Jakarta dan sekitarnya, seperti Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Depok. Kota-kota besar lain seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya, selain jumlah pemudiknya tidak sebanyak Jakarta, menjadi kota tujuan mudik.
Jika memperhatikan jumlah pemudik terbanyak dan kota keberangkatan dan kota tujuan, perkiraan jarak rata-rata yang ditempuh pemudik kurang lebih 600 km, atau hampir sama dengan jarak dari Jakarta ke Yogyakarta, atau kurang sedikit untuk jarak ke Surakarta, dan Solo, tetapi lebih jauh dari Magelang, Semarang, serta Rembang. Bila motor yang digunakan mengonsumsi 1 liter bensin untuk menempuh jarak 30 km, serta menggunakan asumsi bahwa pembakaran 1 liter BBM akan menghasilkan 2,4 kg CO2 (karbon dioksida), 3,6 juta motor pemudik akan menghasilkan 172.800 ton CO2. Asumsi itu digunakan Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim, yaitu gabungan kerja 4 LSM peduli perubahan iklim, dalam penelitian mereka selama Oktober 2008 di Bali.
Bila jarak yang ditempuh mobil sama dengan motor dan 1 liter BBM digunakan untuk menempuh jarak 10 km, untuk 1,37 juta mobil akan dihasilkan 197.280 ton CO2 sehingga dari motor dan mobil yang digunakan untuk mudik akan terproduksi 370.080 ton CO2.
Dari makalah Aep Syaepul Rohman (Ketua Lemlit Universitas Pakuan), dalam satu hari sebatang pohon menyerap CO2 antara 20 gram dan 36 gram per hari. Jadi bila ada 1 juta pohon yang digunakan untuk menyerap habis CO2 yang dihasilkan, akan diperlukan waktu selama 28,16 tahun. Waktu itu akan sedikit lebih singkat bila faktor lain seperti tanah diperhitungkan, tetapi pohon jauh lebih banyak menyerap CO2 dalam satuan waktu.
Dalam perhitungan itu diasumsikan bahwa tidak ada kemacetan lalu lintas, serta sumber CO2 hanya berasal dari motor dan mobil. Meskipun demikian, dapat dilihat bahwa perjalanan mudik akan menyumbangkan jumlah CO2 yang sangat berarti dalam kerusakan lingkungan, terutama efek rumah kaca. CO2 menjadi objek perhatian karena jumlahnya di atmosfer terus meningkat akibat dari kegiatan manusia, ini adalah salah satu gas rumah kaca sehingga keberadaannya harus dikendalikan. Dengan jumlah yang cukup besar, perlu dicari jawaban untuk mengurangi jumlah CO2 yang ditimbulkan kegiatan mudik karena berkumpul dengan sanak keluarga di hari Lebaran adalah hak setiap orang. Jadi, mudik tidak dapat dilarang.
Pemudik adalah perantau yang meninggalkan kampung halaman untuk mendapatkan pekerjaan atau melanjutkan pendidikan di kota-kota besar. Ketika berangkat, kebanyakan perantau masih berpenghasilan rendah atau pengganggur, juga tidak cukup berpendidikan. Tidak semua perantau berhasil mendapatkan pekerjaan di kota, tetapi untuk yang telah berhasil, mudik adalah sebuah kesempatan untuk melampiaskan rindu juga untuk menunjukkan keberhasilan. Motor dan mobil adalah sebuah ukuran dari keberhasilan mengumpulkan materi di kota, selain sebagai alat penghemat biaya perjalanan, sehingga kendaraan ini perlu dikendarai untuk mudik. Dari niat untuk merantau telah tampak salah satu masalah di daerah asal, yaitu lowongan pekerjaan dengan penghasilan yang cukup sulit didapatkan. Demikian pula sarana pendidikan tingkat lanjutan tidak tersedia.
Seorang pemuda yang pergi ke kota besar untuk menuntut ilmu setelah tamat ternyata tidak kembali ke kampung halaman karena di sana tidak tersedia lowongan kerja. Cerita itu telah sering kita dengar dan itu adalah kenyataan yang banyak kita lihat. Bila tersedia kesempatan kerja yang cukup, para pemuda pasti akan memilih bekerja di kampung halaman karena tidak perlu meninggalkan sanak keluarga, juga dapat menekan biaya-biaya yang diperlukan bila mereka berada di perantauan.
Pangkal masalah dari kurangnya kesempatan kerja adalah pendidikan, investasi, dan peraturan. Dalam hal pendidikan tinggi, membangun akademi atau universitas bukan tugas pemerintah daerah (pemda), juga akan memerlukan biaya yang sangat mahal, tetapi mengundang pihak swasta untuk mendirikannya di daerah dapat diupayakan sehingga beban pendidikan tinggi dapat dialihkan. Demikian pula untuk meningkatkan keterampilan praktis, dapat diupayakan melalui balai latihan yang dibangun pemda atau kursus yang dilaksanakan swasta. Pembuatan peraturan dan pelaksanaanya adalah tugas pemda bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan aparat penegak hukum. Dalam hal promosi keunggulan daerah, dapat dilakukan pemda bekerja sama swasta.
Bila tenaga terdidik dan terampil telah cukup tersedia, juga telah adanya peraturan yang jelas dan menguntungkan semua pihak yang juga telah dijalankan dengan benar, serta pemda yang giat berpromosi tentang kelebihan daerahnya, akan banyak pemodal yang datang untuk berinvestasi. Investasi dapat diartikan sebagai menjalankan bisnis atau membangun perusahaan sehingga akan banyak tersedia lowongan pekerjaan. Dengan tersedianya kesempatan kerja yang cukup, akibatnya pemuda tidak perlu lagi pergi ke kota besar untuk melanjutkan pendidikan, demikian pula untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan demikian, mudik dengan mengendarai motor atau mobil dengan jarak yang cukup jauh tidak perlu dilakukan sehingga biaya untuk kegiatan ini tidak perlu dikeluarkan. Demikian pula produksi CO2 yang sangat besar di saat mudik tidak akan terjadi.
Tersedianya kesempatan kerja tidak hanya menekan perusakan lingkungan, tetapi juga dapat merangsang kecepatan pertumbuhan ekonomi di daerah dan distribusi tenaga berpendidikan yang terampil serta menguatkan ekonomi nasional. (Sumber: Media Indonesia, 8 September 2010)
Tentang penulis:
Harry Jusron, Kepala Bidang Evaluasi Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Masyarakat Kementerian Riset dan Teknologi




KOMENTAR TERBARU