Oleh Surya Aka
Selesai sudah Komisi A DPRD Jatim bersama tim seleksi memilih dan menentukan tujuh calon anggota KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) Jatim. Pada Sabtu 5 Juni lalu, Ketua DPRD Jatim Imam Sunardhi mengumumkan tujuh nama komisioner calon anggota KPID periode 2010-2013 di media massa.
Seleksi yang berlangsung lebih dari sebulan tersebut diharapkan menghasilkan komisioner yang berkualitas, kapabel, dan kompak dalam melaksanakan amanat UU No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Mereka akan bertugas untuk mengawasi lembaga penyiaran radio dan televisi, selain juga memproses perizinan.
Melihat tujuh nama yang lolos, rupanya tim seleksi memilih anggota dari lembaga yang bervariasi. Tiga nama merupakan incumbent, yakni Fajar Arifianto Isnugroho, Arif Budi Santoso, dan Catur Suratnoaji. Sedangkan empat nama yang baru adalah Maulana Arief, seorang jurnalis AJI; Mochammad Dawud, komunitas lembaga penyiaran radio; dan Dyva Claretta, satu-satunya perempuan, akademisi dari UPN Veteran. Sedangkan penulis bisa disebut mewakili kalangan lembaga penyiaran televisi dan sekaligus jurnalis.
Menjalani enam tahap seleksi yang digelar, rasanya penuh harap-harap cemas. Sebab, banyak peserta berasal dari kalangan dosen berbagai kampus di Jatim, tokoh lembaga independen, pengacara, wartawan cetak-radio-TV, pria, dan wanita. Sedangkan para penguji terdiri atas para akademisi terkemuka yang sangat kompeten di bidangnya.
Setelah lolos seleksi administrasi, dilanjut tes tertulis di kampus IAIN Sunan Ampel, Surabaya, diikuti 98 peserta. Beberapa hari kemudian diumumkan bahwa yang lolos 28 peserta. Mereka kemudian dihadapkan tes psikologi dan wawancara di Dinas Psikologi TNI-AL. Ratusan soal mesti dikerjakan dalam hitungan tertentu. Terkadang ada pertanyaan tak ada hubungannya dengan dunia penyiaran. Belakangan kami baru mafhum, test psikologi dibutuhkan untuk menguji emosi seseorang, ketahanan mental, dan kepribadiannya.
Setelah lolos dari psikologi, 21 peserta dipanggil untuk tes debat publik yang digelar di Simpang Hotel, Surabaya. Pada debat itu, penulis mendapatkan giliran hari pertama. Pengujinya terdri atas Dr Rahmaida dari Unair, Surabaya; Arifin Emka direktur Stikosa, Surabaya; serta dua orang lagi dari direktur sebuah TV lokal dan tokoh radio Jatim. Pertanyaan yang diajukan sangat kritis dan tajam.
Selesai debat, tes berlanjut ke ruang sidang paripurna DPRD Jatim di Jalan Indrapura. Di sana tiap peserta berhadapan dengan 20 anggota DPRD dari komisi A. Tiap peserta, selain menyampaikan visi dan misi, harus menjawab pertanyaan dewan, baik yang berkaitan dengan kepenyiaran, komunikasi, kapasitas, maupun soal kepribadian. ”Agar kami tidak keliru pilih.” kata Sabron Pasaribu, ketua komisi A yang memimpin sidang.
Kalau ditanya apa program setelah menjabat, tentu saja harus menunggu pelantikan dan menunggu hasil kesepakatan seluruh komisioner. Tetapi, secara pribadi, penulis mencatat setidaknya ada empat tantangan jangka pendek yang mesti dihadapi KPID baru:
Pertama, konsolidasi dan mendengarkan masukan, menentukan skala prioritas program kerja. Konsolidasi penting, mengingat komisi ini terdiri atas tiga anggota lama dan empat anggota baru. Meski mereka baru kali ini berkumpul dari satu lembaga, kami yakin mereka cepat akrab dan menyatu. Sebelum melangkah, ada baiknya KPID baru juga mendengarkan aspirasi dari kalangan dewan, lembaga penyiaran, maupun masyarakat pada umumnya.
Kedua, menyelesaikan pekerjaan proses perizinan yang belum diuji. Baik melalui evaluasi dengar pendapat (EDP), pendorong proses perizinan (FRB), maupun terbitnya ISR dan IPP. Dengan begitu, LPP bisa bekerja dengan tenang. Ketiga, mengevaluasi sistem siaran berjaringan, apakah semua TV nasional sudah bersiaran lokal, kemudian menertibkan frekuensi bersama Balai Monitor Deparpostel.
Keempat, meningkatkan kualitas isi siaran. Mendorong TV lokal agar memiliki program khas berciri lokal. Menertibkan tayangan yang dapat menurunkan akhlaq dan moral masyarakat. Selain itu, mengajak masyarakat bersama-sama KPID mengawasi tayangan TV. Satu lagi aspirasi masyarakat yang mesti diwujudkan, yakni pemberian penghargaan (award) buat televisi yang memiliki acara terbaik. Bidang program news, feature, dialog, musik, komedi, kesenian daerah, dll. Diharapkan nanti semangat semua stasiun akan terpacu untuk membuat program lokal terbaik. Mohon doanya agar kami dapat menjalankan amanah ini. (Sumber: Jawa Pos, 10 Juni 2010)
Tentang penulis:
H Surya Aka SH, Mantan Pimred JTV




KOMENTAR TERBARU