Arsip untuk Juni 14th, 2010

Merawat Tuah Hasan di Tiro

Oleh Amiruddin al-Rahab

Dr Tgk. Hasan Muhammad di Tiro adalah sosok yang paling menakutkan bagi Indonesia sebelum Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki ditandatangani pada 2005. Sosok berperawakan kecil dengan sorot mata menghunjam yang berdiam di Swedia itu mengobarkan perlawanan terhadap “ketidakadilan” di Aceh selama 30 tahun. Selama itu pula serdadu pemerintah pusat memburunya. Namun beliau tak pernah takluk.

Selama perlawanan berkobar di Bumi Rencong, tak banyak yang bisa diketahui tentang sepak terjang dan kemampuan Hasan di Tiro dalam memobilisasi, mengobarkan propaganda, dan memikat banyak orang muda Aceh untuk berjibaku dalam segala keterbatasan menghadapi gempuran tentara pemerintah pusat. Bisa dikatakan, Hasan di Tiro memiliki “tuah” karena kemisteriusannya itu.

Saat ini kobaran perlawanan itu telah mereda. Dengan damai bersemi, Aceh memasuki era baru dalam relasinya dengan pemerintah pusat. Namun era baru Aceh itu tidak terlalu lama dilihat oleh Hasan di Tiro. Pada 3 Juni 2010, beliau wafat di Banda Aceh sebagai warga negara Indonesia, yang diterimanya sehari sebelumnya. Hasan di Tiro dimakamkan di Indrapuri, bersebelahan dengan makam pahlawan nasional Indonesia dari Aceh, Teungku Cik di Tiro, dan disaksikan ribuan rakyat Aceh yang berduka.

Kepergian Hasan di Tiro tentu meninggalkan duka bagi rakyat Aceh. Meskipun demikian, Aceh tidak perlu terlalu lama terperangkap dalam duka itu. Sebab, Aceh harus bergegas cepat meraih era baru yang kini datang. Seluruh perjuangan Hasan di Tiro sesungguhnya meletakkan fondasi nan kokoh bagi Aceh untuk memasuki era baru itu. MoU Helsinki adalah kristalisasi dari cita-cita dan nilai-nilai perjuangan yang telah dirintis oleh Hasan di Tiro. Sebab, MoU tersebut merupakan sebuah dokumen politik yang memperbarui seluruh relasi Aceh dengan pemerintah. Esensi dari MoU adalah menghentikan seluruh cara tindak pemerintah yang “tidak adil” serta mempercepat “keadilan” sampai ke setiap rumah di Aceh.

Sebaliknya, MoU dapat pula dibaca sebagai pengakuan bersalah pemerintah (baca pemerintah pusat dan daerah) atas seluruh tindak-tanduk aparat mereka selama MoU belum ditandatangani. Maka, substansi MoU Helsinki adalah penghormatan dari pemerintah kepada seluruh nilai-nilai perjuangan yang dikobarkan oleh Hasan di Tiro. Fondasi kedua dari Hasan di Tiro adalah munculnya generasi muda Aceh yang mampu menatap dunia dengan kepala tegak. Singkatnya, gelombang generasi muda Aceh yang lahir pada 1970-an dan 1980-an telah melihat sosok Hasan di Tiro sebagai sosok Aceh yang ideal.

Meskipun generasi ini tumbuh dalam gelombang kekerasan dan salakan senjata, generasi ini pulalah yang bisa melihat dunia dengan lebih optimistis. Ketika generasi yang lahir pada 1970-80-an mencapai puncak usia emas mereka pada tahun 2000-an ini, mereka berjumpa dengan segala manusia dari berbagai belahan dunia yang hadir di Aceh. Bagi generasi ini, Hasan di Tiro betul-betul menjadi pembuka pintu menuju dunia yang lebih luas. Meskipun tidak pernah bersitatap mata dengan Hasan di Tiro, generasi muda Aceh merasakan “tuah” Hasan di Tiro. Salah satu “tuah” itu adalah Hasan di Tiro telah membuka mata generasi baru Aceh dalam menatap dunia secara optimistis.

Melalui perjuangan Hasan di Tiro, generasi muda Aceh jauh lebih optimistis dari generasi tuanya. Dengan modal optimisme itu, menjadi Aceh dalam Indonesia kini dirasakan jauh lebih bermartabat, karena menjadi Indonesia bagi orang Aceh tidak secara gratis. Kondisi itu membuat generasi muda Aceh tidak lagi berada dalam perasaan terpojok karena berada di ujung pojok Sumatera. Mereka lebih terbuka kepada hal-hal baru dan sekaligus asing, serta tidak tertawan dalam sejarah masa lalu. Sebab, melalui perjuangan Hasan di Tiro, generasi muda Aceh telah belajar bahwa “membuat sejarah” jauh lebih penting dari sekadar “penghafal dan pencatat sejarah.” Demi membuat sejarah di masa kini itulah, merawat “tuah” Hasan di Tiro menjadi jauh lebih penting daripada beromantisme tentang Hasan di Tiro di mata generasi muda.

Untuk menatap masa depan Aceh yang lebih baik, ada beberapa hal yang bisa dirintis. Pertama, tetap mengobarkan optimisme dalam menatap masa depan Aceh. Artinya, generasi muda Aceh perlu merasakan “api” dari perjuangannya dalam konteks kekinian Aceh. Dengan demikian, generasi muda Aceh tidak lagi menjadi generasi yang suka mengeluh dan mengumpat serta terus-menerus menyalahkan yang datang dari luar, melainkan jauh lebih berani melakukan kritik dan otokritik ke dalam Aceh sendiri.

Agar “api” perjuangan Hasan di Tiro itu terus berkobar membakar seluruh generasi muda Aceh, “tuah” Hasan di Tiro harus dilepas dari kerangkeng GAM atau Partai Aceh. Dengan kata lain, “tuah” Hasan di Tiro harus menjalar ke setiap sanubari generasi muda Aceh. Dengan demikian, mistifikasi dan monopoli pemaknaan perjuangan Hasan di Tiro tidak perlu ada. Jika monopoli pemaknaan terjadi, yang bisa diterima dan dirasakan oleh generasi muda Aceh hanyalah “abu” yang lekas dingin.

Kedua, merefleksikan seluruh perjuangan Hasan di Tiro sebagai perjuangan dengan semangat kosmopolitan dan terbuka kepada ide-ide pembaruan. Karena itu, segala ide dan sepak terjang politik yang mencoba mengucilkan Aceh dari ranah kosmopolitan dan membatasi pembaruan harus ditentang demi terus hidupnya “tuah” perjuangan Hasan di Tiro.

Dalam kerangka bersikap seperti itu, Aceh “damai dan berkeadilan” seperti yang dicita-citakan oleh Hasan di Tiro akan lebih cepat bisa diwujudkan. Sebab, modalitas untuk itu ada saat ini, yaitu peluang yang besar dan generasi muda yang optimistis. Peluang ini hanya akan gagal jika generasi tua Aceh terus berkukuh dalam zona nyaman (comfort zone) mereka sendiri sambil mengurung Aceh.

Ketiga, menempatkan seluruh perjuangan Hasan di Tiro sebagai perjuangan seorang intelektual. Dengan kata lain, seluruh sepak terjang Hasan di Tiro merupakan praktek dari sikap intelektualnya yang jujur dan tidak mau berkompromi dengan perbuatan yang mendatangkan ketidakadilan kepada setiap pundak rakyat Aceh.

Hanya melalui jalan sikap keintelektualan seperti itulah Aceh bisa dinakhodai untuk menuju masa depannya yang lebih baik. Karena itu, dalam menjalankan pemerintahan dan kepemimpinan di Aceh, sikap intelektual yang tidak berkhianat pada kejujuran dan keberpihakan kepada mereka yang diperlakukan tidak adil sungguh sangat diperlukan sekarang ini dan ke masa depan.

Maka, dalam konteks sekarang ini mungkin dapat dimaknai bahwa perjuangan Hasan di Tiro sesungguhnya adalah perjuangan yang didorong oleh sikap optimistis, berdasarkan sikap intelektual demi Aceh yang kosmopolitan untuk bisa menyerap ide-ide pembaruan. Mungkin di atas tiga sikap itulah identitas Aceh menjulang dan bisa eksis sampai kini di Nusantara ini. Itulah “tuah” Hasan di Tiro yang perlu dirawat bersama agar apinya terus berkobar.

Jika Hasan di Tiro tidak mengobarkan optimisme dalam perjuangannya, mungkin generasi muda Aceh yang lahir setelah 1980-an hanya menjadi generasi yang terus curiga pada pembaruan dan terperangkap dalam romantisme masa lalu. Bahkan bisa terus menjadi generasi yang merasa terpojok dan kalah.

Hal itu tampak dari seorang sahabat penulis yang sedang menempuh pendidikan Phd di Belanda. Ketika mengetahui Hasan di Tiro wafat, dia menyatakan rasa dukanya dengan ungkapan “Jika Wali Hasan di Tiro tidak mengobarkan perjuangan, maka saya hanya akan menjadi tukang sol sepatu di Pasar Aceh”. Begitulah generasi muda Aceh menghormati Hasan di Tiro, yaitu menjadikannya pintu pembuka ke dunia luar. Semoga “tuah” Hasan di Tiro tidak cepat pupus. (Sumber: Koran Tempo, 10 Juni 2010)

Tentang penulis:
Amiruddin al-Rahab, Analis politik di Jakarta, inisiator Konsorsium Aceh Baru

Halaman Berikutnya »



ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

KOMENTAR TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 659,373 hits

 

Juni 2010
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.