Oleh Diani Savitri
Roxie, perempuan yang tadinya berkeluarga dengan laki-laki kelas menengah di Chicago, terlibat dalam hubungan luar-nikah dengan lelaki lain, Fred. Roxie sangat mencintai Fred hingga membunuhnya karena Fred memutuskan hubungan sepihak. Terancam hukuman mati, Roxie dan pengacaranya, Flynn (dikesankan licin cerdik dan senantiasa bersaksi bahwa segala pembelaannya adalah “berdasarkan cinta”), menyusun skema pembelaan yang melibatkan pembentukan citra melalui media. Roxie si peselingkuh menjadi perempuan korban patriarki laki-laki dan kebanalan kehidupan rumah tangga. Masyarakat jatuh iba dan jatuh cinta kepada Roxie. Masyarakat teralihkan–hujatan jadi pemujaan.
Roxie mendapatkan kebebasan. Keberpihakan bukan hanya diberikan masyarakat, tapi juga bagian dari masyarakat yang kebagian peran di ranah hukum: para juri di pengadilan. Roxie bahkan mendapatkan bonusnya: ketenaran. Ternyata Roxie lebih menikmati gelimang perhatian dan belaian maya masyarakat melalui media. Ada proses kontestasi: kisah Roxie mengalahkan wacana publik lain. Ada proses seleksi: masyarakat memilih untuk ditimang oleh cerita pedih Roxie ketimbang merenungkan kejahatannya. “Mereka menyukai aku, aku menyukai mereka karena mereka menyukai aku, kami saling menyukai karena tidak cukup ada cinta dalam hidup kami,” kata Roxie.
Chicago pada 1920-an, tempat dan periode waktu dalam cerita di atas, seperti beberapa kota yang sedang berkembang lain di Amerika Serikat, memang disesaki beragam gairah dan gelisah kehidupan. Roxie ada di cerita dalam drama musikal Chicago yang ditulis pada tahun 1926 oleh Maurine Watkins, dan dipentaskan di beberapa negara sejak 1990-an. Di Esplanade, Singapura, pementasan sejak 16 April hingga 9 Mei 2010 ini tidak hanya mengundang pemirsa dalam negeri, tapi juga negara-negara tetangga termasuk Indonesia. Saat menyaksikannya, ingatan saya justru terbang kembali ke Indonesia.
Maria Eva, Jupe
Popularitas sebagai kata pada awalnya memiliki kualitas positif dan menyiratkan unsur penghargaan, persetujuan kolektif. Pada prosesnya, kini kata ini seperti dipakai bergantian untuk menggambarkan dua kondisi yang berbeda: ketenaran karena nama baik (fame) dan nama buruk (notoriety). Tampaknya, asal-muasal tidak lagi utama, orang tidak merasa perlu repot menyusur ke masa lampau, seberapa baru masa itu berlalu. Bukan karena lupa–bukankah masyarakat kita sangat suka akan kenangan? Yang penting sepertinya bagaimana popularitas itu menemukan bentuknya di kekinian–bagaimana popularitas di tengah masyarakat seperti menjadi candu pengalih dari kondisi mereka sehari-hari yang lebih banyak memprihatinkan daripada menyemangatkan.
Popularitas memang makhluk digdaya. Si empunya bisa mengendalikannya untuk mendapatkan kemudahan akses dan kepemilikan sumber daya lain dalam hidup. Dan kemudahan serta kepemilikan sepertinya dua kata kunci yang menggambarkan bagaimana masyarakat modern berkehidupan. Karena itu, popularitas dicari. Apabila tidak mampu memilikinya sendiri, tak apalah menjadi sekadar saksi dari bagaimana popularitas hilir-mudik di depan mata, menikmati kemudahan-kemudahan yang sulit ditemui sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
Maka Maria Eva, setelah Jupe, menjadi kontestan bakal calon bupati dalam pemilihan kepala daerah. Dan banyak pula pendukungnya. Lalu, bermunculan berbagai komentar. Dari yang sederhana dan mudah ditebak, seperti mempertanyakan kemampuan dan pengalaman yang membuat mereka dan pendukungnya cukup percaya diri mengajukan diri, hingga komentar yang terkesan egaliter yang berargumen bahwa siapa saja berhak berpartisipasi dalam demokrasi, dan bukankah pilkada adalah perangkat demokrasi.
Kini bayangkan perempuan lain dengan dada sama ranumnya dengan Jupe, ekspresi wajah sama percaya dirinya dengan Maria Eva, sejarah pribadi dan keseharian yang kurang lebih sama kecuali bahwa perempuan lain ini tidak memiliki ketenaran. Bahkan bila perempuan ini memiliki potensi yang lebih tinggi, katakanlah pendidikan formal yang sedikit lebih tinggi atau pengalaman berpolitik meski sekadar turut pawai saat pilpres misalnya, bolehlah dipertaruhkan apa masih ada orang yang mendukungnya. Belum sempat ia membuat berita, ia akan sudah keburu terlibas oleh mekanisme struktur formal seperti proses seleksi calon kandidat pilkada, hingga struktur yang lebih abstrak dalam masyarakat seperti cemoohan dan tekanan dari lingkungannya sendiri.
Era popularitas
Kita tiba di masa ketika siapa pun dengan popularitas (dengan skala tertentu dan dalam dimensi tertentu) bisa mendapatkan dukungan untuk mencalonkan diri untuk menjadi penanggung jawab kemaslahatan publik di Sidoarjo. Era ketika popularitas cukup digdaya untuk membebaskan seseorang dari segala kekangan dan impitan struktur. Bila popularitas itu menempel pada subyek non-personal, wacana atau topik publik, misalnya, daya kerja popularitas juga akan sama: popularitas menyediakan alasan, memberi pemaafan dan pemakluman, meredakan keraguan.
Cerita tentang Roxie dan kecanduannya akan ketenaran melebihi nama baik dan integritas, bukan untuk menyatakan kecenderungan kecanduan yang sama dari empunya popularitas. Yang disorot di sini justru bagaimana masyarakat di sekeliling Roxie di Chicago pada 1920-an dan sebagian pendukung Maria Eva di Sidoarjo tahun 2010 mungkin telah menjadi pengkonsumsi popularitas: pemamah berita/cerita yang melakukannya tanpa memberi tekanan arti (mindlessly) terus-menerus hingga tidak sadar sudah menjadikan kegiatan ini sebagai adiksi. Masyarakat yang menisbikan masa lalu, tidak terlalu cermat memperhitungkan masa depan, karena yang utama adalah kekinian yang di depan mata, prasyarat yang dipenuhi oleh alat pertukaran terbaru bernama popularitas.
Yang lalu harus dicermati, bagaimana popularitas sebagaimana candu dapat membuat kita tidak lagi terlalu peka akan keadaan yang sesungguhnya. Ia menumpulkan logika, mengaburkan reasoning atau bangun-nalar dan penjelasan. Saat popularitas menempel pada subyek tertentu, baik persona maupun wacana, ada kecenderungan bagi penikmat popularitas untuk teralihkan dari isi dan esensi. Segala sumber daya dan tenaga tercurah pada hal yang sebetulnya ada di periferi subyek tersebut. Sidoarjo lalu tentang Maria Eva lebih renyah dimamah daripada Sidoarjo yang berlumpur selama empat tahun.
Kalau sudah begini, kematangan berpikir dan kepekaan merasa jadi salah dua elemen utama yang dapat menahan kita jadi semacam omnivora: sekadar pemakan segala. Popularitas berita maupun persona harus bisa dikuliti hingga kita sungguh paham betul akan isinya, sehingga mencernanya akan menyehatkan jiwa-raga kita. Bukan diam-diam meracuninya. (Sumber: Koran Tempo, 15 Mei 2010)
Tentang penulis:
Diani Savitri, mahasiswa Program Pascasarjana Sosiologi FISIP Universitas Indonesia




KOMENTAR TERBARU