Dehumanisasi Anak Korban Trafficking

Oleh Bagong Suyanto

Kendati ancaman hukuman bagi pelaku trafficking tergolong berat, di lokalisasi pelacuran di Gang Dolly dan Jarak, Kota Surabaya, kasus perdagangan anak di bawah umur tampaknya tak juga surut. Sebagaimana dikemukakan Ketua Lembaga Abdi Asih Lilik Sulistyawati, untuk periode Januari-Desember 2009 saja, dilaporkan telah terjadi 80 kasus child trafficking. Rata-rata anak yang menjadi korban trafficking berusia 14-17 tahun. Mereka umumnya berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur. Misalnya, Blitar, Banyuwangi, Tulungagung, dan Nganjuk (Jawa Pos, 14 Desember 2009).

Di tengah janji dan komitmen pemerintah untuk menegakkan UU Perlindungan Anak, terjadinya berbagai kasus child trafficking di Kota Surabaya tersebut tentu sangat memprihatinkan, bahkan ironis. Ternyata masih ada sebagian di antara anak-anak perempuan -yang masa depan dan kelangsungan tumbuh-kembangnya seharusnya dijamin secara wajar- mengalami perlakuan sangat mengenaskan: menjadi korban penipuan, pemaksaan, dan diperdagangkan layaknya komoditas di sektor industri jasa layanan seksual komersial.

Besaran Masalah
Kasus child trafficking, sebagaimana dipaparkan Yayasan Abdi Asih, sesungguhnya merupakan fenomena gunung es. Artinya, selain 80 kasus trafficking sebagaimana yang terdata, sangat mungkin masih banyak kasus lain yang belum terungkap. Di Indonesia, berbagai estimasi menyebutkan, jumlah anak yang dilacurkan dibanding PSK dewasa yang ada adalah 2:8 atau 3:7. Sementara itu, Irwanto yang pernah menjadi konsultan UNICEF dan ILO memprediksi, di antara 174 ribu pelacur yang resmi terpantau di Indonesia, ternyata separonya adalah anak-anak.

Di berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, walau tidak ada angka pasti, ditengarai jumlah anak perempuan yang menjadi korban trafficking dan dilacurkan terus bertambah sejak terjadinya situasi krisis ekonomi serta meningkatnya berbagai kasus KDRT dan child abuse di masyarakat.

Brown (2005), misalnya, menyatakan bahwa salah satu faktor pendorong perempuan terlibat dan menjadi korban sindikat perdagangan perempuan untuk kemudian dilacurkan adalah tekanan kemiskinan dan posisi anak perempuan yang acapkali hanya dipandang membebani keluarga. Brown menyatakan, tidak jarang terjadi anak perempuan sengaja dijual orang tua kandungnya untuk membayar utang yang telanjur menumpuk.

Sementara itu, kajian yang dilakukan Bagong Suyanto dkk (2001) menemukan bahwa tingginya permintaan anak perempuan dalam dunia industri seksual dipicu oleh mitos-mitos seputar keperawanan dan tuahnya yang dipercaya bisa membuat lelaki hidung belang tetap awet muda, selain adanya ancaman penyebaran HIV/AIDS yang kemudian mengakibatkan permintaan terhadap anak perempuan cenderung meningkat karena dianggap lebih bersih dan aman. Sebagaimana dikatakan Altman (2007), di berbagai belahan dunia, adanya ancaman AIDS telah meningkatkan permintaan terhadap pelacur-pelacur di bawah umur.

Dehumanisasi
Sebagai anak yang tidak berdaya ketika harus berhadapan dengan orang dewasa dan sebagai perempuan yang disubordinasi oleh ideologi patriarkhis serta sebagai manusia yang diperlakukan layaknya komoditas dalam industri layanan seksual komersial, yang dialami anak-anak yang terjerumus dalam praktik prostitusi sungguh merupakan hal-hal yang identik dengan penderitaan dan melanggar hak anak dengan cara yang benar-benar memiriskan.

Seorang anak perempuan yang terjebak dan kemudian bekerja sebagai penjaja layanan seksual tidak saja berisiko menghadapi perilaku mucikari atau germo yang eksploitatif. Tapi, tak jarang mereka sehari-hari juga berhadapan dengan ulah calo yang selalu meminta imbalan, baik materi maupun layanan seksual gratis. Juga, ulah lelaki pelanggan yang biasanya akan memperlakukan mereka layaknya barang dagangan yang telah dibeli, yang bisa diminta melakukan layanan apa pun sesuai permintaan lelaki yang telah membayarnya itu.

Di industri jasa layanan seksual, posisi anak perempuan sering tidak berdaya dan penurut. Sebab, ada daya pengikat irasional yang membuat mereka senantiasa tunduk terhadap dominasi dan kekuasaan mucikari. Tidak jarang terjadi, anak perempuan yang telanjur terperangkap dalam pekerjaan sebagai pelacur makin dalam terjerumus di dunia kelam yang dijalaninya karena menjadi korban praktik pemerasan ancaman tindak kekerasan dari berbagai pihak. Mereka juga menjadi korban stigma masyarakat yang tidak memungkinkan untuk mencari jalan kembali ke dunia di luar prostitusi.

Sebagai manusia, boleh dikatakan semua anak yang dilacurkan mengalami proses dehumanisasi. Mereka tidak lagi memiliki kekuasaan apa pun atas dirinya. Sebab, seluruh mekanisme kerja yang harus dijalani sehari-hari ditentukan oleh mucikari dan keinginan lelaki pelanggannya. Dalam kehidupan prostitusi, sudah lazim terjadi para pelacur anak, meski tengah mengalami menstruasi atau sedang sakit, terpaksa tetap melayani lelaki pelanggan yang membayarnya. Sebab, mereka tidak memiliki kemampuan sedikit pun untuk menolak atau menghindar dari kewajibannya sebagai mesin pencetak uang.

Harus diakui, menyelamatkan anak perempuan yang menjadi korban trafficking bukanlah hal mudah. Bahkan, yang memprihatinkan, alih-alih kita berusaha menyelamatkan mereka, dalam kenyataan, tidak jarang terjadi kita justru tanpa sadar memperlakukan mereka tak ubahnya terdakwa dan pihak yang disalah-salahkan karena stigma yang telanjur berkembang di masyarakat. Yakni, pelacur adalah perusak suami orang atau bahkan disebut wanita tunasusila.

Tanpa didukung pemahaman yang benar serta komitmen dan empati yang kuat, upaya menyelamatkan anak korban trafficking niscaya hanya akan menjadi retorika. Bagaimana pendapat Anda? (Sumber: Jawa Pos, 16 Desember 2009)

Tentang penulis:
Bagong Suyanto, dosen FISIP Unair, menulis disertasi tentang anak yang dilacurkan

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,475,156 hits
Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 77 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: