Pemalsuan Dokumen Surat Nikah

Oleh Wahyu Christianto

 

Banyak cara melindungi hubungan asmara gelap. Tidak sedikit pasangan selingkuh yang memanfaatkan jasa nikah llegal yang disahkan dengan akta palsu pula. Dengan akta, pernikahan haram itu seolah-olah legal. Namun, praktik terlarang ini berhasil digagalkan petugas Polwiltabes Surabaya. Machfur, 33, lelaki yang menyatakan dirinya modin, ditangkap polisi di rumahnya Jl. Lasem Surabaya, Rabu (22/10/2008).

 

Machfur sebenarnya bukan orang yang memiliki otoritas menikahkan, karena dia bukan pemuka agama apalagi petugas KUA. Namun menurut Kanit Idik V Satreskrim Polwiltabes Surabaya, AKP Yohanes Rudin, praktik Machfur ini sudah dikenal luas. Setidaknya menurut pengakuannya selama lima bulan sejak praktik illegal ini dibuka, sedikitnya sudah 14 pasangan yang memanfaatkan jasanya itu. Namun ini baru pengakuan sepihak Machfur. Polisi menduga jumlah pengguna jasanya lebih dari itu.

 

Menurut polisi, jasa khusus itu membuat Machfur tetap dicari orang yang ingin hubungan asmaranya tampak legal. Ketenaran Machfur ini telah menyebar dari mulut ke mulut . Meski untuk jasa itu Machfur memasang tarif tinggi. Untuk satu paket pernikahan, ia mematok Rp. 850.000. “Itu sudah termasuk buku nikahnya,” kata Machfur diselah penyidikan.

 

Tarif ini lumayan mahal karena dibandingkan dengan biaya pencatatan resmi di KUA yang Rp.250.000 atau kalau ada pungutan plus-plus bisa Rp.350.000. Fleksibilitas termasuk menjadi kunci sukses Machfur menggaet konsumen. Kalau pemohon tidak punya uang kontan sebanyak itu, ia berbaik hati memberikan keringanan dua kali bayar. Yaitu Rp. 400.000 untuk uang muka, sedangkan sisanya disetor setelah “akad nikah” rampung dan pemohon mengantongi buku nikah.

 

Kelebihan jasa Machfur dibanding praktik nikah siri kebanyakan adalah dilengkapi buku nikah. Katanya, orang awam dijamin sulit membedakan buku nikah yang dikeluarkannya dengan yang dikeluarkan KUA. Bentuknya mirip dengan buku nikah asli. Mulai sampul, hingga isinya. Bahkan stempel KUA yang ada didalam buku nikah palsu bisa disesuaikan dengan domisili calon mempelai perempuan. Tingkat kemiripan itu menimbulkan dugaan, buku nikah itu sebenarnya asli, namun menjadi palsu setelah digunakan dalam praktik illegal.

 

Machfur diyakini tidak sendirian menjalankan praktiknya. Polisi menduga ini bagian dari sindikat besar pembuatan akta nikah palsu plus praktik pernikahan illegal. Machfur belakangan mengaku dibantu seorang kawannya bernama M.Hasan (56 tahun), warga Jl. Dupak Bangunsari, berperan menyediakan buku nikah palsu itu. Sepasang buku nikah untuk suami dan istri disediakan Hasan seharga Rp.40.000. Namun, Hasan keburu kabur dan jejaknya belum terendus ketika polisi mencarinya. Namun pencarian Hasan tetap dilakukan, karena kata AKP Yohanes Rudin, diduga Hasan bukan yang mencetak akta nikah itu. Dari pengakuan Machfur, Hasan memesan buku tersebut dari Pegawai Departemen Agama yang identitasnya masih kabur. Dari rumah Machfur polisi hanya bisa membawa dua buku nikah palsu sebagai barang bukti.

 

Berdasarkan pasal 263 ayat (1)KUHP: Barangsiapa membuat surat palsu atau memalsukan surat, yang dapat menerbitkan sesuatu hak, sesuatu perjanjian (kewajiban) atau sesuatu pembebasan utang, atau yang boleh dipergunakan sebagai keterangan bagi sesuatu perbuatan, dengan maksud  akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan surat-surat itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, maka kalau mempergunakannya dapat mendatangkan sesuatu kerugian dihukum karena pemalsuan surat, dengan hukuman penjara selama-lamanya enam tahun.

 

Pasal 263 ayat (2) KUHP: Dengan hukuman serupa itu juga dihukum, barang siapa dengan sengaja menggunakan surat palsu atau yang dipalsukan itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, kalau hal mempergunakan dapat mendatangakan sesuatu kerugian.  

 

Sedangkan Pasal 264 KUHP disebutkan:

(1)  Pemalsuan surat diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun, bila dilakukan terhadap:

a.    akta-akta otentik;

b.     surat utang atau sertifikat utang dari suatu negara atau bagiannya ataupun dari suatu lembaga umum;

c.    surat sero atau utang atau sertifikat sero atau utang dari suatu perkumpulan, yayasan, perseroan atau maskapai;

d.    talon, tanda bukti dividen atau bunga dari salah satu surat yang diterangkan dalam huruf (b) dan huruf (c), atau tanda bukti yang dikeluarkan sebagai pengganti surat-surat itu;

e.    surat kredit atau surat dagang yang disediakan untuk diedarkan.

(2)  Diancam dengan pidana yang sama barangsiapa dengan sengaja memakai surat tersebut dalam ayat (1), yang isinya tidak asli atau yang dipalsukan seolah olah benar dan tidak dipalsukan, bila pemalsuan surat itu dapat menimbulkan kerugian.

 

Surat nikah merupakan salah satu bentuk akta otentik. Berdasarkan ketentuan Pasal 1868 KUH Perdata, akta otentik ialah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat. Perbuatan memalsukan surat nikah adalah perbuatan pidana dalam kategori kejahatan. Pelaku diancam penjara paling lama delapan tahun.

 

Tentang penulis:

Wahyu Christianto SH, alumni Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, bekerja di Kantor Advokat/ Konsultan Hukum MN Effendi SH & Rekan, Jln Gubeng Jaya II/12-A Surabaya. Telepon (031) 503 3177,  502 0488  Faks (031) 503 0323. Email: wahyu_fadly@yahoo.com

 

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,432,772 hits
Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: