Kerjasama Bank dan Produk Investasi Asuransi

Oleh Rini Pudjiastutik

 

Perkembangan ekonomi dan perbankan semakin mempersempit ruang gerak ekonomi masyarakat pada umumnya yang tidak menyangkutpautkan perputaran uang mereka dengan dunia perbankan. Termasuk asuransi, reksadana dan bisnis keuangan yang lainnya, semakin menyita ruang gerak dan memperluas aspek pentingnya kerjasama dengan bank.

 

Kesuksesan suatu perusahaan asuransi yang memasarkan produk asuransi unit link, kemudian diikuti oleh perusahaan asuransi yang lain. Dan menjadi sangat perlu bagi pihak bank yang bekerjasama dengan asuransi untuk lebih selektif dalam memilih perusahaan asuransi yang menjadi mitranya. Karena dengan semakin berkembangnya kegiatan pemasaran perusahaan asuransi melalui kerjasama dengan bank (bancassurance), maka disadari bahwa kegiatan tersebut selain memberikan manfaat juga berpotensi menimbulkan berbagai risiko bagi bank terutama risiko hukum dan risiko reputasi.

 

Resiko hukum, misalnya corporate liability (tanggung gugat perusahaan) sesuai dengan pasal 1367 KUH Perdata apabila terjadi kesalahan manajerial. Khususnya apabila terjadi pengalihan risiko yang seharusnya tidak ditanggung oleh pihak bank. Karena memang bank seharusnya tidak ikut bertanggunggugat atas risiko yang akan terjadi.

 

Sebagaimana yang dijanjikan pihak asuransi berupa jaminan tingkat penghasilan / pengembalian tertentu yang akan dinikmati oleh nasabah apabila investasinya mendapatkan predikat excellent. Konsep pengalihan tanggung gugat ini didasarkan pada pemikiran :

  • memberikan jaminan kepada nasabah yang dirugikan bahwa ia pasti akan dapat menemukan pihak tergugat yang punya kemampuan membayar
  • memberikan umpan balik kepada pihak manajemen perusahaan agar memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar lagi dalam mengelola dan mengontrol kinerja SDM-nya sehingga tercipta pelayanan nasabah yang memuaskan.

 

Dalam hal yang dipasarkan merupakan asuransi yang terkait dengan investasi (investment link / unit link), berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/43/DPNP paragrap II butir 5 (c), Jakarta 7 Oktober 2004 , maka :

  1. Bank wajib menjelaskan secara lisan dan tulisan kepada nasabah karakteristik investasi tersebut yang sekurang-kurangnya mencakup portofolio aset investasi, prosedur dan pihak yang melakukan valuasi nilai unit, manajer investasi, bank kostodian, risiko investasi yang dihadapi, persyaratan dan tata cara untuk penjualan kembali (redeem) serta pihak yang bertanggungjawab untuk menyampaikan laporan valuasi nilai unit kepada nasabah.
  2. Bank dilarang memberikan jaminan baik secara langsung maupun tidak langsung, apabila asuransi yang terkait investasi tersebut menawarkan jaminan tingkat penghasilan / pengembalian tertentu.

 

Keuntungan bagi bank jika terjadi risiko gagal investasi yang menyebabkan tingkat pengembalian dana nasabah tidak sesuai dengan asumsi investasi yang dilakukan oleh manajer investasi dari pihak perusahaan asuransi, maka bank tidak berkewajiban untuk ikut mengganti dana tersebut  Ketentuan ini sengaja dikesankan pemerintah agar bank tidak ikut menanggung corporate liability.

 

Berdasarkan SEBI yang sama pada paragrap II butir 5 (a) 1 juga dijelaskan, pihak bank harus menjelaskan secara lisan dan tertulis bahwa asuransi yang dipasarkan bukan produk bank dan tidak termasuk dalam program penjaminan pemerintah.

 

Apabila kita berpikir positif maka hal ini merupakan kehati-hatian pemerintah agar negara dan rakyat tidak selalu menjadi pihak yang dirugikan apabila terjadi kepailitan spekulasi bisnis bancassurance. Sebaliknya, hal ini juga merupakan cara melepaskan tanggung jawab secara semena-mena dan sepihak yang sangat merugikan nasabah. Tentu saja keadaan ini tidak sesuai dengan asas dan tujuan UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Bukankah dengan kerjasama bank dan asuransi ini kedua belah pihak sama-sama diuntungkan? Lantas, begitu tiba giliran ruginya pihak bank dan pemerintah tidak mau ikut-ikutan menanggungnya.

 

Ketentuan SEBI ini sebenarnya merupakan jalan tengah dari akumulasi keinginan pemerintah. Yakni antara keinginan untuk memajukan perekonomian bangsa dengan mengijinkan praktek bancassurance dan keinginan untuk melindungi aset negara (bank) yang notabene merupakan alat pemerintah untuk mengendalikan ekonomi negara. Sehingga tidak perlu heran apabila kita menjumpai adanya ambiguitas di dalam ketentuan ini.

 

Hal ini perlu kita ketahui sebagai masyarakat umum, karena banyak perusahaan asuransi yang menginovasi produknya sedemikian rupa untuk menarik minat masyarakat . Dan masyarakat yang semakin kritis diharapkan semakin menyenangi pemilihan investasi sebagai salah satu problem solving masalah keuangan mereka. Salah satu inovasinya adalah dengan memasarkan program asuransi unit link yang menawarkan jaminan tingkat penghasilan / pengembalian  tertentu dari sejumlah premi yang dibayarkan nasabah ke perusahaan asuransi.

 

Dengan mengkaji peraturan ini, apabila kita  sudah memiliki polis asuransi unit link, maka dapat menilai apakah benar kinerja bancassurance sudah sesuai prosedur / peraturan yang berlaku. Dalam arti apakah bank kerjasama sudah melakukan langkah-langkah proseduran, misalnya menjelaskan secara lisan dan tulisan kepada nasabah mengenai ketentuan diatas.

 

Apabila belum, paling tidak kita bisa menjadi calon nasabah yang lebih kritis manakala ada informasi tentang asuransi yang menawarkan jaminan tingkat penghasilan / pengembalian tertentu (asuransi unit link). Sehingga kita tidak akan dirugikan atas pemilihan jenis investasi tertentu yang sepertinya menjanjikan keuntungan yang besar. Karena kita sadar benar bahwa akan  menerima apa pun risiko dari segala jenis pemilihan investasi tersebut.

 

Tentang penulis:

Rini Pudjiastutik SH, alumni Fakultas Hukum Unair, bekerja di Kantor Advokat/ Konsultan Hukum MN Effendi SH & Rekan, Jln Gubeng Jaya II/12-A Surabaya. Telepon (031) 503 3177,  502 0488  Faks (031) 503 0323. Email: rinifastkho@yahoo.com

 

 

 

About these ads


ISSN 1979-9373
ISSN GagasanHukum.WordPress.Com

ARSIP

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1,479,775 hits
Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: